PUNGGAWAFOOD – Viral di media sosial beberapa waktu lalu, seorang pria mengalami kolesterol tinggi mencapai 292 mg/dL setelah mengonsumsi lima potong bebek dan tongseng kambing. Kejadian ini memicu perdebatan: apakah daging hewan tersebut benar-benar penyebab utama kolesterol tinggi? Dr. Sung, seorang dokter spesialis, membongkar mitos ini dan mengungkap fakta mengejutkan di balik masalah kolesterol.

Kolesterol Bukan Musuh, Tapi Kebutuhan Vital Tubuh

Banyak masyarakat yang masih salah kaprah menganggap kolesterol sebagai penyakit atau zat berbahaya yang harus dihindari. Padahal, kolesterol merupakan substansi esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia.

“Kolesterol bukanlah penyakit. Ia adalah komponen vital yang menyerupai lemak dan diperlukan untuk berbagai fungsi tubuh yang krusial,” jelas Dr. Sung dalam video edukasinya.

Dari Mana Kolesterol Berasal?

Kolesterol dalam tubuh berasal dari dua sumber utama:

Kolesterol Endogen (diproduksi tubuh) – Sekitar 80% kolesterol diproduksi oleh organ-organ tubuh kita sendiri, terutama hati, usus halus, korteks adrenal, dan otak.

Kolesterol Eksogen (dari makanan) – Sekitar 20% berasal dari konsumsi makanan hewani seperti daging, telur, susu, keju, kepiting, dan udang.

Lima Fungsi Penting Kolesterol

Dr. Sung menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan kolesterol untuk:

  1. Membentuk struktur membran sel – Kolesterol adalah komponen vital untuk membangun dan mempertahankan integritas setiap sel dalam tubuh
  2. Produksi hormon steroid – Menjadi bahan baku untuk hormon-hormon penting seperti estrogen, testosteron, dan kortisol
  3. Sintesis vitamin D – Berperan dalam proses pembentukan vitamin D yang penting untuk kesehatan tulang
  4. Produksi asam empedu – Diperlukan untuk mencerna dan menyerap lemak dari makanan
  5. Fungsi otak optimal – Fakta mencengangkan: meskipun otak hanya 2% dari berat badan, ia mengandung 20-25% dari total kolesterol tubuh

Mitos Lemak vs Kolesterol: Tidak Semua Makanan Berlemak Tinggi Kolesterol

Salah satu kesalahpahaman terbesar di masyarakat adalah menganggap semua makanan berlemak atau berminyak pasti tinggi kolesterol.

“Ini adalah mitos yang perlu diluruskan. Makanan tinggi lemak belum tentu tinggi kolesterol,” tegas Dr. Sung.

Contoh makanan tinggi lemak tapi bebas kolesterol:

  • Alpukat
  • Kacang-kacangan
  • Semua minyak nabati (kelapa, zaitun, kedelai)

Bahkan mereka yang menjalani pola makan vegan atau vegetarian pun belum tentu memiliki profil lipid yang baik jika tidak mengatur pola makan dengan benar.

Keluarga Besar Lipoprotein: Kendaraan Pengangkut Kolesterol

Karena kolesterol tidak larut dalam air, tubuh memerlukan “kendaraan khusus” yang disebut lipoprotein untuk mengangkutnya ke seluruh tubuh. Dr. Sung mengibaratkan sistem ini seperti jaringan transportasi dengan berbagai jenis kendaraan:

1. Kilomikron: Bus Besar Pengangkut Lemak Makanan

Terbentuk di usus halus setelah kita mengonsumsi makanan berlemak. Tugasnya mengangkut trigliserida dari makanan ke seluruh jaringan tubuh untuk energi atau penyimpanan.

2. VLDL (Very Low-Density Lipoprotein): Pengantar dari Hati

Diproduksi oleh hati untuk mendistribusikan kolesterol dan trigliserida ke seluruh tubuh. Saat VLDL melepaskan muatan lemaknya, ia akan menyusut seperti balon yang bocor perlahan.

3. IDL (Intermediate-Density Lipoprotein): Fase Transisi

Bentuk peralihan saat VLDL menyusut setelah menurunkan sebagian muatannya.

4. LDL (Low-Density Lipoprotein): Bentuk Akhir yang Padat

Hasil akhir dari penyusutan VLDL. Bertugas mengantar kolesterol ke sel-sel yang membutuhkan. Sering disebut “kolesterol jahat” – namun ini tidak sepenuhnya akurat.

5. HDL (High-Density Lipoprotein): Bus Pembersih

Jika LDL adalah pengantar, HDL adalah pembersih. Tugasnya mengumpulkan kelebihan kolesterol dari jaringan dan dinding pembuluh darah, lalu membawanya kembali ke hati untuk didaur ulang atau dibuang. Inilah mengapa HDL disebut “kolesterol baik”.

Temuan Mengejutkan: Masalah Sebenarnya Bukan LDL, Tapi LDL yang Rusak!

Inilah inti dari penjelasan Dr. Sung yang mengubah paradigma tentang kolesterol.

“Masalah sebenarnya bukan pada tingginya kadar kolesterol atau LDL, melainkan pada LDL yang rusak atau teroksidasi,” ungkap Dr. Sung.

Analogi Kunci dan Gembok

Setiap partikel LDL memiliki “kunci identitas” bernama ApoB-100. Kunci ini harus cocok dengan “lubang kunci” di hati (reseptor LDL) agar LDL bisa kembali dan didaur ulang.

Ketika LDL teroksidasi, kunci ini seperti berkarat atau patah – tidak bisa lagi membuka pintu hati. Akibatnya:

  • LDL tidak bisa kembali ke hati
  • Terjadi penumpukan LDL di aliran darah
  • Meningkatkan jumlah partikel LDL (LDL-P)
  • Inilah biang keladi sesungguhnya dari penyakit jantung

Apa yang Menyebabkan LDL Teroksidasi?

Dr. Sung mengidentifikasi beberapa faktor utama:

  1. Merokok – Radikal bebas dari asap rokok adalah penyebab oksidasi terbesar
  2. Gula darah tinggi – Kadar glukosa berlebih memicu proses oksidasi
  3. Makanan ultra-processed (UPF) – Makanan olahan tinggi natrium, gula, dan omega-6
  4. Peradangan kronis – Inflamasi sistemik mempercepat kerusakan LDL
  5. Stres oksidatif – Ketidakseimbangan radikal bebas dan antioksidan

Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas: LDL Tipe A vs Tipe B

Tidak semua LDL diciptakan sama. Ada dua jenis:

LDL Tipe A (Large Buoyant LDL)

  • Partikel besar dan mengapung
  • Sehat dan tidak rusak
  • TIDAK meningkatkan risiko penyakit jantung

LDL Tipe B (Small Dense LDL)

  • Partikel kecil dan padat
  • Mudah teroksidasi
  • SANGAT berbahaya dan terkait erat dengan penyakit jantung

Mengapa Small Dense LDL Sangat Berbahaya?

  1. Mudah menembus dinding arteri – Ukurannya yang kecil membuatnya gampang menyusup
  2. Rentan teroksidasi – Setelah masuk, mudah rusak dan memicu peradangan
  3. Sulit dibersihkan – Tinggal lebih lama di aliran darah

“Inilah mengapa kualitas partikel LDL jauh lebih penting daripada sekadar total kolesterol,” tegas Dr. Sung.

Tes Praktis Tanpa Biaya Mahal: Rasio Trigliserida-HDL

Tidak semua laboratorium menyediakan tes lengkap untuk mengukur LDL partikel atau ApoB, dan biayanya pun mahal. Dr. Sung memberikan solusi praktis:

Formula Sederhana: Trigliserida รท HDL

Interpretasi:

  • Risiko Rendah: < 2
  • Risiko Sedang: 2 – 4
  • Risiko Tinggi: > 4

“Semakin tinggi trigliserida dan semakin rendah HDL, semakin besar kemungkinan Anda memiliki Small Dense LDL yang berbahaya,” jelas Dr. Sung.

Koneksi Mengejutkan: Dari Gula ke LDL Berbahaya

Banyak pasien bingung mengapa kolesterol tinggi malah disarankan diet rendah gula. Dr. Sung menjelaskan alur prosesnya:

Tahap 1: Konsumsi karbohidrat berlebih, terutama gula

Tahap 2: Hati mengubah kelebihan gula menjadi lemak (trigliserida) melalui proses de novo lipogenesis

Tahap 3: Trigliserida dikemas dalam partikel VLDL dan dilepas ke aliran darah

Tahap 4: Produksi VLDL tinggi cenderung menghasilkan Small Dense LDL yang berbahaya

“Kadar trigliserida puasa Anda secara langsung mencerminkan seberapa aktif hati memproduksi VLDL,” ungkap Dr. Sung.

Memahami Hasil Tes Lipid Anda

Dr. Sung memberikan panduan praktis membaca hasil tes:

Nilai Normal Standar:

  • LDL: < 100 mg/dL
  • HDL: Pria > 40 mg/dL, Wanita > 50 mg/dL
  • Trigliserida: < 150 mg/dL

Rasio yang Lebih Penting:

  • Total Kolesterol รท HDL: Optimal < 3,5 (idealnya < 3)
  • Trigliserida รท HDL: Optimal 1, risiko rendah < 2

Kapan LDL Tinggi Menjadi Sinyal Bahaya?

Kadar LDL yang sangat tinggi bisa menjadi gejala masalah kesehatan lain:

  • Resistensi insulin (penyebab utama)
  • Kekurangan vitamin B12
  • Peradangan kronis
  • Hipotiroidisme
  • Penyakit ginjal

Lima Langkah Perbaikan Profil Lipid

1. Perbaiki Pola Makan

  • Hindari makanan ultra-processed (tinggi natrium, gula, omega-6)
  • Perbanyak makanan whole foods
  • Batasi karbohidrat sederhana

2. Tingkatkan Aktivitas Fisik

Orang yang kurang aktivitas fisik akan kesulitan mengontrol profil lipid

3. Pemantauan Rutin

  • Tanpa riwayat penyakit: 1 kali/tahun
  • Dengan diabetes/penyakit jantung: 3-4 kali/tahun

4. Kelola Stres

Stres mental mempengaruhi organ tubuh dan memperburuk profil lipid

5. Pendekatan Holistik

Pertimbangkan terapi komplementer seperti akupunktur untuk memperbaiki sirkulasi dan menurunkan stres

Kesimpulan: Ubah Paradigma tentang Kolesterol

Narasi lama yang menganggap LDL sebagai musuh utama ternyata tidak lengkap. Kolesterol, termasuk LDL, sebenarnya dibutuhkan tubuh. Masalah muncul ketika:

  1. LDL teroksidasi dan berubah menjadi Small Dense LDL
  2. Rasio trigliserida-HDL tidak seimbang
  3. Ada masalah mendasar seperti resistensi insulin atau peradangan kronis

“Jadi, bukan bebek atau kambingnya yang salah. Yang perlu kita perhatikan adalah pola makan keseluruhan, terutama konsumsi gula dan makanan olahan yang memicu oksidasi LDL,” tutup Dr. Sung.

Dengan pemahaman yang tepat tentang kolesterol, kita bisa membuat keputusan kesehatan yang lebih bijak – bukan sekadar menghindari makanan tertentu, tapi memahami mekanisme tubuh dan menjaga keseimbangan metabolisme secara menyeluruh.


Artikel ini disadur dari penjelasan Dr. Sung tentang kolesterol dan kesehatan kardiovaskular. Untuk informasi lebih lanjut atau kondisi medis spesifik, konsultasikan dengan dokter Anda.


RADIO SUARA BERSATU FM