PUNGGAWAFOOD, MERANGIN, JAMBI — Di sebuah sudut tenang Desa Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, berdiri sebuah bangunan tua yang telah menyaksikan rentang waktu tujuh abad. Rumah tuo, demikian warga menyebutnya, bukan sekadar konstruksi kayu yang menua bersama waktu. Ia adalah jantung kebudayaan, tempat tradisi ngiling bumbu terus berdenyut dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bagian dari jiwa masyarakat Tabir.

Tradisi ngiling bumbu lahir dari rahim nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan semangat gotong royong yang mengakar kuat dalam kehidupan komunal masyarakat setempat. Ia hadir dalam berbagai peristiwa penting: ketika musim turun ke ladang tiba, saat panen raya dirayakan, ketika kenduri pernikahan digelar, bahkan sewaktu sebuah rumah baru hendak dibangun. Dalam setiap momen itu, ngiling bumbu menjadi perekat sosial yang menyatukan warga dalam satu irama kehidupan.

Prosesi ini merupakan bagian dari tradisi yang lebih luas, yakni beselang — sebuah sistem kerja sama komunal yang menjadi ciri khas masyarakat Rantau Panjang. Di tengah kesibukan menumbuk rempah, suasana yang tercipta bukanlah keheningan kerja, melainkan gelak tawa dan canda yang menghangatkan. Para gadis sibuk menghaluskan kunyit, jahe, lengkuas, dan serai, sementara tangan-tangan lain lincah memarut kelapa untuk diperas menjadi santan.

Semua bahan itu bersumber dari ladang-ladang subur yang membentang di sepanjang Sungai Lamuih, aliran air yang mengalir menuju Sungai Tabir sebelum akhirnya bermuara di Sungai Batanghari — sebuah harmoni antara manusia dan alam yang terjalin dalam setiap butir rempah.


RADIO SUARA BERSATU FM