“Sekarang, ngiling bumbu hanya jadi bagian dari beselang untuk memasak, dan itu dilakukan induk-induk. Kalau muda-mudi, perkenalan sekarang di HP bae,” tutur Ramuini (19), pelajar SMAN 2 Merangin, dengan nada yang menyiratkan kesederhanaan yang mengandung kehilangan.

Namun ancaman yang paling nyata justru datang dari arah lain. Penambangan emas ilegal yang kian masif telah menyempitkan aliran Sungai Tabir secara drastis, merusak ekosistem persawahan, dan mengancam ketahanan pangan yang selama ini menjadi fondasi tradisi ini. Sawah-sawah yang dulu subur kini banyak yang terbengkalai karena kekurangan air. Dan belut — bahan utama gulai khas Tabir — semakin langka ditemukan di alam.

“Kalau sawah dak dikerjakan lagi, tradisi mancing belut pun hilang. Makanan khas kami juga bisa lenyap,” keluh Sholihin, seorang pemuda setempat, dengan kekhawatiran yang mencerminkan suara banyak warga.

Warisan yang Harus Dijaga Bersama

Di tengah berbagai tekanan itu, masyarakat Desa Rantau Panjang tidak berpangku tangan. Upaya pelestarian terus dijalankan, karena mereka sadar bahwa ngiling bumbu adalah cermin identitas, bukan sekadar rutinitas memasak.


RADIO SUARA BERSATU FM