PUNGGAWAFOOD – Aroma harum nasi liwet dan sajian tradisional kembali memenuhi rumah-rumah warga menjelang Ramadhan 2026. Tradisi munggahan, sebuah ritual kuliner penuh makna yang telah diwariskan turun-temurun, kembali mewarnai persiapan masyarakat menyambut bulan suci.

Menu Tradisional Penuh Filosofi

Munggahan, yang dalam bahasa Sunda berarti “menaikkan”, tak hanya soal menyantap hidangan bersama. Setiap sajian yang dihidangkan sarat akan makna peningkatan kualitas diri menuju kesempurnaan spiritual.

Masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya biasanya menyiapkan menu khas satu hingga dua hari sebelum puasa dimulai. Santapan sederhana namun mengenyangkan menjadi pilihan utama dalam perayaan kebersamaan ini.

Sajian Utama yang Wajib Hadir

Nasi Liwet menjadi primadona dalam setiap acara munggahan. Nasi gurih yang dimasak dengan santan dan bumbu rempah ini disajikan hangat, melambangkan kehangatan kebersamaan keluarga.

Melengkapi hidangan utama, berbagai lauk pauk tradisional turut menghiasi meja makan—mulai dari ayam goreng kampung, ikan asin, tempe orek, hingga sayur asem yang menyegarkan. Tak lupa, jajanan pasar seperti onde-onde, lemper, dan kue tradisional lainnya menjadi penutup yang manis.

Berbagi Hidangan, Mempererat Ikatan

Keunikan munggahan terletak pada cara penyajiannya yang komunal. Acara makan bersama atau yang dikenal sebagai botram dan bancakan dilakukan di berbagai tempat—rumah keluarga besar, halaman masjid, hingga lapangan terbuka.

Momen berbagi hidangan ini menjadi sarana memperkuat silaturahmi sambil saling memaafkan. Sambil menyantap hidangan sederhana, warga juga mengisi waktu dengan pengajian dan doa bersama, mempersiapkan jiwa dan raga menghadapi ibadah puasa.

Kearifan Lokal di Tengah Modernitas

Di era serba digital tahun 2026 ini, tradisi munggahan tetap bertahan sebagai bukti kekuatan budaya lokal. Kesederhanaan menu yang disajikan justru mengajarkan nilai-nilai penting: kebersamaan lebih berharga dari kemewahan, dan persiapan spiritual jauh lebih utama dibanding kesibukan duniawi.

Para ibu rumah tangga tetap setia memasak hidangan tradisional, mewariskan resep dan filosofi kepada generasi muda agar tradisi ini tak lekang dimakan zaman.

Dari Dapur Hingga Hati yang Bersih

Munggahan bukan sekadar memasak dan menyantap hidangan. Prosesi lengkapnya meliputi kunjungan ke makam keluarga, doa bersama, hingga momen bermaafan yang ikhlas—semuanya dilakukan sambil berbagi berkah melalui hidangan yang telah disiapkan dengan penuh cinta.

Menjelang Ramadhan 2026, munggahan kembali mengingatkan bahwa persiapan terbaik menyambut bulan penuh ampunan dimulai dari hal sederhana: berbagi makanan dengan tulus dan membersihkan hati sebelum perut terisi.


Tradisi munggahan membuktikan bahwa hidangan sederhana bisa menjadi jembatan persaudaraan dan pembersih jiwa—sebuah resep sempurna menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah.


RADIO SUARA BERSATU FM