PUNGGAWAFOOD — Ada sesuatu yang sedang bergerak diam-diam di tengah hiruk-pikuk dunia kuliner Indonesia. Di saat restoran fine dining terus bermunculan dan tren makanan kekinian silih berganti memenuhi layar media sosial, sejumlah hidangan yang selama ini hidup dalam bayang-bayang kesederhanaan justru semakin banyak dicari. Nasi kucing, gaplek, tiwul, sayur lodeh, hingga sambal terasi dengan tempe goreng atau ikan asin — makanan-makanan yang dulu hampir selalu dikaitkan dengan kehidupan yang serba terbatas — kini meja makan tidak lagi memandang dari kelas mana tangan yang mengambilnya.

Pergeseran selera ini bukan sekadar tren sesaat. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih dalam. Bahwa di balik segala kemajuan gaya hidup dan perubahan standar kenikmatan, manusia rupanya tetap menyimpan kebutuhan akan rasa yang tidak dibuat-buat. Lidah bisa diajak jalan jauh, tetapi pada titik tertentu ia selalu menemukan cara untuk kembali menghormati rasa yang jujur.

Nasi Kucing dan Logika Cukup

Tidak ada hidangan yang lebih telanjang mewakili kesederhanaan itu selain nasi kucing. Porsinya mungil, bungkusnya dari daun pisang atau kertas minyak, isinya tidak lebih dari sebutir tempe, secuil ikan, atau olesan sambal. Dari penampilannya saja sudah terbaca bahwa hidangan ini lahir bukan dari keinginan memanjakan, melainkan dari kebutuhan mencukupkan.

Namun justru dari logika cukup itulah nasi kucing memperoleh daya tariknya yang aneh. Ia tidak mendiskriminasi. Mahasiswa yang mengencangkan ikat pinggang, pekerja kantoran yang keluar makan siang, pelancong yang sengaja mampir ke warung lesehan, hingga mereka yang tidak perlu khawatir soal harga — semuanya bisa duduk bersama di bangku panjang yang sama, menikmati bungkusan kecil yang sama, tanpa ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain.


RADIO SUARA BERSATU FM