Di situlah pelajaran halus nasi kucing bekerja. Bahwa makanan yang lahir dari keterbatasan sering kali lebih piawai memahami manusia ketimbang makanan yang lahir dari kemewahan. Ia tidak menawarkan keagungan. Ia menawarkan keakraban. Dan keakraban itu, ternyata, lebih menenangkan daripada berlimpah rasa yang hambar maknanya.
Gaplek dan Tiwul: Keterpaksaan yang Menjelma Warisan
Kisah gaplek dan tiwul menyimpan ironi yang lebih dalam lagi. Bagi generasi yang pernah merasakannya langsung, kedua makanan berbahan singkong ini bukan kenangan manis. Ia adalah potret musim paceklik, adalah ingatan tentang masa ketika beras menjadi barang langka dan dapur harus berpikir keras untuk bertahan. Singkong dikeringkan dan diolah seadanya bukan karena ingin tampil autentik, melainkan karena keadaan tidak memberi pilihan lain.
Namun waktu memiliki cara tersendiri untuk mengubah makna. Hari ini, gaplek dan tiwul tidak lagi dipandang sebagai simbol kekurangan. Ia dijual sebagai oleh-oleh khas, dicari oleh pelancong yang ingin merasakan cita rasa lokal yang asli, bahkan diperbincangkan sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dilestarikan. Sesuatu yang dulu dimakan karena tidak ada pilihan, kini dihargai justru karena dianggap pilihan yang bermakna.
Perubahan itu, tentu saja, menyimpan rasa getir yang tidak bisa sepenuhnya diabaikan. Karena pengakuan itu baru datang setelah jarak waktu dan jarak sosial membuat orang tidak lagi harus hidup di dalam kesulitan yang melahirkannya. Penghargaan terlambat tetaplah penghargaan. Namun ia juga mengingatkan bahwa manusia kadang baru bisa melihat nilai sesuatu setelah tidak lagi membutuhkannya untuk bertahan hidup.

Tinggalkan Balasan