Lodeh, Sambal Terasi, dan Rasa Pulang

Sayur lodeh tidak pernah mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Kuah santannya bening kekuningan, isinya sayuran rumahan yang mudah didapat, bumbu-bumbunya sudah begitu akrab sehingga hampir tidak perlu dituliskan resepnya. Sambal terasi juga demikian. Tidak cantik untuk difoto, tidak memerlukan teknik memasak yang rumit, tidak memiliki nama yang terdengar asing di lidah.

Namun letakkan keduanya di atas meja bersama nasi yang masih mengepul, tempe goreng, tahu, ikan asin, atau sebutir telur dadar — lalu perhatikan apa yang terjadi. Orang makan dengan khusyuk. Percakapan melambat. Suasana menjadi hangat dengan cara yang sulit dijelaskan, tetapi sangat mudah dirasakan.

Itulah kekuatan yang tidak bisa dibeli oleh harga mahal: kemampuan membuat orang merasa pulang. Makanan seperti lodeh dan sambal terasi tidak memerlukan pembenaran panjang, tidak butuh plating artistik, tidak perlu embel-embel cerita panjang tentang bahan-bahannya. Ia cukup hadir, lalu bekerja dengan caranya sendiri. Dan mungkin itulah yang membuat ia dicintai lintas generasi dan lintas kelas — karena ia tidak pernah meminta siapa pun untuk menjadi orang lain dulu sebelum bisa menikmatinya.

Dikagumi dan Dicintai: Dua Hal yang Berbeda

Ada pembeda mendasar antara makanan yang dikagumi dan makanan yang dicintai. Yang dikagumi sering membuat orang berdecak, mengabadikannya dalam foto, lalu melupakannya begitu kenangan visual itu tersimpan. Yang dicintai adalah yang dicari ketika tubuh lelah pulang, ketika pikiran penat, ketika yang dibutuhkan bukan pengalaman baru melainkan rasa yang sudah dikenal.


RADIO SUARA BERSATU FM