Nasi kucing, tiwul, lodeh, dan sambal terasi hidup di wilayah yang kedua itu. Mereka bukan sekadar enak. Mereka memberi rasa tenang, rasa cukup, dan rasa bahwa hidup tidak selalu harus dibuat berlebihan untuk bisa dinikmati. Itulah sebabnya makanan-makanan ini mampu menembus sekat kelas sosial yang sering kali susah ditembus oleh hal lain. Karena pada akhirnya, selera bisa mengikuti tren, tetapi hati memiliki jalannya sendiri untuk kembali ke sesuatu yang sederhana.
Pengakuan yang Terlambat, Tapi Bermakna
Apa yang sedang terjadi pada makanan-makanan ini sesungguhnya adalah semacam pengakuan. Pengakuan bahwa nilai sebuah hidangan tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh harga bahan-bahannya, oleh nama restoran yang menyajikannya, atau oleh seberapa indah ia terlihat di layar. Nilai yang sesungguhnya diukur dari apa yang ia tinggalkan di dalam diri orang yang memakannya.
Makanan yang lahir dari dapur yang tahu cara bertahan, dari kebiasaan yang dibentuk oleh kebutuhan dan bukan oleh gengsi, ternyata menyimpan karakter yang sulit ditiru oleh makanan mana pun yang lahir dari ambisi citra. Mereka tidak pernah lahir untuk pamer. Mereka lahir untuk menghidupi.
Dan mungkin itulah ironi paling manis dalam perjalanan panjang kuliner Indonesia. Yang dulu diletakkan di sudut paling bawah hierarki sosial, yang dulu dianggap hanya pantas untuk meja kayu tanpa taplak, ternyata menyimpan rasa yang terlalu kaya untuk dilupakan oleh siapa pun — terlepas dari seberapa jauh mereka telah berjalan meninggalkannya.

Tinggalkan Balasan