Sarat Makna Filosofis dalam Setiap Anyaman
Lebih dari sekadar makanan, ketupat mengandung filosofi mendalam yang diajarkan turun-temurun. Kata “ketupat” atau “kupat” dalam bahasa Jawa dipercaya berasal dari frasa “ngaku lepat” yang bermakna mengakui kesalahan. Tradisi menyajikan ketupat saat lebaran mengandung harapan agar umat Islam dapat saling memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu.
Sementara itu, pasangan sejoli ketupat dengan kuah santan juga tidak lepas dari pesan moral. Dalam bahasa Jawa, santan disebut “santen” yang bermakna “pangapunten” atau permohonan maaf, semakin memperkuat simbolisme rekonsiliasi dalam tradisi lebaran.
Bagi masyarakat Jawa, setiap elemen ketupat memiliki makna tersendiri. Janur kuning yang melilit nasi dipercaya sebagai penangkal marabahaya. Bentuk geometris persegi empat atau belah ketupat mencerminkan konsep “kiblat papat lima pancer”, sebuah filosofi Jawa yang mengajarkan keseimbangan hidup dan keyakinan bahwa manusia akan selalu kembali kepada Sang Pencipta.
Anyaman janur yang rumit dan berlapis-lapis melambangkan kompleksitas dosa dan kesalahan manusia. Namun ketika ketupat dibelah, nasi putih yang bersih di dalamnya menjadi simbol kesucian jiwa setelah memohon ampunan. Adapun beras sebagai bahan dasarnya merepresentasikan harapan akan kemakmuran setelah melewati hari kemenangan.
Dari Sekaten hingga Tradisi Lintas Agama
Mengutip NU Online, popularitas ketupat terus berlanjut pada masa Kerajaan Mataram Islam. Buktinya terlihat dari kehadiran ketupat dalam berbagai upacara keraton di Solo, Yogyakarta, dan Cirebon, khususnya dalam rangkaian tradisi sekaten atau grebeg mulud yang digelar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW setiap 12 Rabiul Awal.

Tinggalkan Balasan