PUNGGAWAFOOD, Di balik dinginnya udara pegunungan Sinjai Barat, tersimpan sebuah warisan kuliner yang telah menemani masyarakat Manipi selama berabad-abad. Manu Pallu Cukka, hidangan berkuah tradisional yang namanya tersusun dari tiga kata dalam bahasa Bugis-Makassar—Manu (ayam), Pallu (masakan berkuah), dan Cukka (cuka aren/Cukka Inru)—bukan sekadar santapan penghangat tubuh, melainkan jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Keistimewaan hidangan ini terletak pada kesederhanaannya yang penuh makna. Ayam kampung menjadi bahan utama, dipadukan dengan bumbu-bumbu rempah pilihan: bawang merah, bawang putih, merica, cabai merah atau rawit sesuai selera, lengkuas yang menghadirkan aroma harum menenangkan, serta serai yang menyegarkan. Namun yang membedakan Manu Pallu Cukka dari masakan ayam lainnya adalah sentuhan cuka aren alami—pemberi rasa asam khas yang menyegarkan dan menghangatkan di waktu bersamaan.
Yang lebih istimewa lagi, seluruh bumbu tidak diolah dengan cara modern menggunakan blender, melainkan ditumbuk dan diulek secara tradisional. Proses ini bukan hanya soal teknik memasak, tetapi ritual yang menjaga keaslian cita rasa dan mempertahankan jiwa dari hidangan warisan leluhur.

Tinggalkan Balasan