PUNGGAWAFOOD, Kalau kita bicara tentang pecel, sebenarnya kita sedang membicarakan sejarah panjang masyarakat agraris Jawa. Pecel lahir bukan dari dapur istana, tetapi dari sawah, ladang, dan kebun. Sayuran yang direbus, kangkung, bayam, kacang panjang, daun singkong, tauge, semuanya adalah hasil tanah yang mudah tumbuh di iklim tropis.
Sambal kacang yang menjadi jantung rasa pecel adalah refleksi dari komoditas kacang tanah yang juga banyak ditanam petani lokal. Dalam banyak kajian budaya pangan Nusantara, makanan seperti pecel disebut sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap sumber daya alam di sekitarnya. Ia sederhana, murah, tetapi bergizi, dan itulah kenapa pecel bertahan lintas generasi.
Secara historis, pecel sangat identik dengan wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kota seperti Madiun bahkan dikenal luas dengan istilah Pecel Madiun yang menjadi identitas daerah. Dalam catatan promosi pariwisata dan literatur kuliner daerah, pecel Madiun sering disebut sebagai salah satu ikon kuliner Jawa Timur karena kekhasan bumbu kacangnya yang lebih kental dan sedikit pedas manis.
Perkembangan pecel juga tidak bisa dilepaskan dari budaya pasar tradisional. Di banyak desa dan kota kecil, pecel dijual sejak pagi hari sebagai sarapan. Ia menjadi makanan pekerja sawah, buruh, pedagang, hingga pegawai. Artinya, pecel bukan makanan eksklusif, ia makanan lintas kelas sosial.
Yang menarik, pecel juga memiliki filosofi yang dalam jika kita mau membacanya lebih pelan. Sayur mayur yang berbeda warna dan tekstur disatukan oleh satu siraman sambal kacang. Dalam budaya Jawa, harmoni adalah nilai penting. Berbeda beda tetapi tetap satu rasa. Pecel seolah menggambarkan kehidupan sosial masyarakat desa, banyak karakter, banyak latar belakang, tetapi bisa hidup berdampingan.

Tinggalkan Balasan