PUNGGAWAFOOD, Makassar – Di tengah hiruk pikuk kuliner Indonesia yang kaya rempah, satu hidangan dari tanah Bugis-Makassar berhasil mencuri perhatian para penikmat kuliner tanah air. Sup Konro, dengan kuah cokelat kegelapannya yang menggoda, telah menjadi ikon gastronomi Sulawesi Selatan yang tak terbantahkan.

Jejak Sejarah di Balik Semangkuk Kuah Rempah

Terminologi “konro” yang berakar dari kosakata lokal Makassar memiliki makna “tulang rusuk”, mengacu pada bahan utama hidangan ini. Perjalanan kuliner sup konro dimulai pada era 1970-an, tepatnya tahun 1972, ketika seorang tokoh bernama H. Hanaping pertama kali memperkenalkan resep otentik hidangan berkuah ini kepada masyarakat.

Transformasi bahan baku sup konro mencerminkan adaptasi kuliner terhadap kondisi sosial ekonomi. Pada masa lampau, tulang rusuk kerbau menjadi primadona utama. Namun, keterbatasan ketersediaan dan melonjaknya harga kerbau pada dekade 1990-an mendorong para pelaku kuliner beralih menggunakan iga sapi sebagai alternatif yang lebih ekonomis.

Karakteristik Unik yang Membedakan

Penampilan sup konro kerap menimbulkan kesalahpahaman dengan sajian rawon asal Jawa Timur karena penggunaan keluak sebagai pewarna alami. Namun, perbedaan signifikan terletak pada gradasi warna kuah yang cenderung cokelat tua, bukan hitam pekat seperti rawon.

Keistimewaan sup konro terletak pada orkestra rempah-rempah yang digunakan. Perpaduan ketumbar, pala, kunyit, kencur, kayu manis, daun jeruk purut, cengkih, dan daun salam menciptakan kompleksitas rasa yang khas. Komposisi bumbu ini menghasilkan aroma yang memukau dan cita rasa yang berlapis-lapis di setiap suapannya.

Varian Penyajian yang Menggugah Selera

Sup konro hadir dalam dua varian utama yang sama-sama menawan. Varian berkuah menawarkan kehangatan kaldu yang kaya dengan daging iga yang empuk hingga mudah terlepas dari tulang. Sementara konro bakar menghadirkan pengalaman kuliner berbeda dengan iga yang dipanggang sempurna, kemudian disiram saus kacang gurih dan disajikan bersama kuah konro sebagai pelengkap.

Fleksibilitas waktu konsumsi menjadi daya tarik tersendiri. Hidangan ini cocok disantap kapan saja – dari sarapan pagi yang menghangatkan, makan siang yang mengenyangkan, hingga makan malam yang memuaskan. Pendamping ideal berupa nasi putih hangat atau ketupat semakin melengkapi kenikmatan bersantap.

Makna Kultural dalam Setiap Sajian

Sup konro bukan sekadar hidangan sehari-hari, melainkan bagian integral dari tradisi kuliner Sulawesi Selatan. Kehadirannya dalam momentum spesial seperti perayaan pernikahan, Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha menunjukkan posisinya sebagai sajian kehormatan yang bermakna dalam budaya lokal.

Ciri khas kuah yang sedikit berminyak dari ekstrak kaldu daging dan warna kehitaman yang menawan membuat sup konro sulit untuk diabaikan. Tekstur daging yang meleleh di mulut menjadi kunci kesuksesan hidangan ini dalam memikat hati para penikmatnya.

Bagi para pecinta kuliner yang ingin mencoba membuat sup konro di rumah, kunci utamanya terletak pada kesabaran dalam mengolah daging hingga mencapai tingkat keempukan optimal. Proses perebusan yang tepat akan menghasilkan daging yang mudah terpisah dari tulang, menciptakan pengalaman kuliner autentik ala Makassar di dapur rumah.


RADIO SUARA BERSATU FM