PUNGGAWAFOOD – Selama ini masyarakat lebih fokus memperhatikan jenis makanan yang dapat membahayakan kesehatan ginjal. Namun, dr. Hans dari SB30 Health mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa beberapa jenis minuman justru berpotensi lebih besar merusak organ vital ini dibandingkan makanan.

“Minuman bisa saya katakan lebih berbahaya daripada makanan untuk kesehatan ginjal,” ungkap dr. Hans dalam kanal edukasinya yang telah ditonton jutaan pemirsa.

Kenali Tanda-Tanda Ginjal Bermasalah

Menurut dr. Hans, masalah ginjal seringkali baru terdeteksi pada stadium lanjut karena gejalanya yang tidak disadari sejak awal. Berikut beberapa tanda peringatan yang perlu diwaspadai:

Gejala Fisik yang Terlihat

Perubahan Pola Buang Air Kecil – Frekuensi buang air kecil yang meningkat, terutama di malam hari (nokturia), menjadi indikator awal gangguan ginjal.

Karakteristik Urin Abnormal – Urin yang berbusa atau berwarna gelap kecoklatan (hematuria) menandakan adanya peradangan pada ginjal.

Kelelahan Tanpa Sebab – Rasa lelah berlebihan meski tidak melakukan aktivitas berat dapat menjadi sinyal gangguan fungsi ginjal.

Nyeri Pinggang – Keluhan nyeri di area pinggang, khususnya pada kasus batu ginjal, perlu mendapat perhatian serius.

Gejala Sistemik

Anemia – Defisiensi eritropoietin, hormon yang diproduksi ginjal untuk membentuk sel darah merah, menyebabkan penderita mengalami kekurangan hemoglobin.

Gatal-gatal Misterius – Rasa gatal tanpa iritasi kulit yang jelas merupakan manifestasi dari penumpukan toksin dalam darah.

Pembengkakan (Edema) – Pembengkakan pada telapak kaki, tangan, dan area bawah mata mengindikasikan stadium yang lebih serius.

Hipertensi – Tekanan darah tinggi dapat menjadi penyebab sekaligus akibat dari kerusakan ginjal, mengingat ginjal berperan dalam regulasi tekanan darah.

Tiga Penyebab Utama Kerusakan Ginjal

Dr. Hans menekankan pentingnya memahami akar penyebab masalah, bukan sekadar mengatasi gejalanya. Tiga faktor utama yang paling sering memicu kerusakan ginjal adalah:

1. Hiperinsulinemia

Kondisi ini ditandai dengan kadar insulin yang lebih tinggi dari normal, bahkan sebelum seseorang terdiagnosis diabetes. “Banyak pasien saya memiliki HbA1c dan gula darah normal, namun kadar insulinnya bermasalah,” jelas dr. Hans.

Hiperinsulinemia sering luput dari perhatian karena pemeriksaan medis umumnya hanya fokus pada kadar gula darah, bukan insulin.

2. Hipertensi Kronis atau Fluktuatif

Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama atau mengalami fluktuasi (naik-turun drastis) secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah di ginjal dan mengganggu fungsi penyaringannya.

3. Penggunaan Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS)

Konsumsi jangka panjang obat pereda nyeri dan obat untuk asam urat yang termasuk kategori OAINS dapat menurunkan fungsi ginjal secara bertahap.

Pentingnya Asupan Cairan yang Tepat

Dr. Hans mengingatkan bahwa minum air putih yang cukup memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan ginjal:

Membantu Proses Filtrasi – Air yang cukup memperlancar penyaringan dan pengeluaran limbah metabolisme seperti kreatinin, blood urea nitrogen (BUN), dan asam urat.

Mencegah Batu Ginjal – Volume air yang memadai mencegah kristalisasi mineral yang membentuk batu ginjal.

Menstabilkan Tekanan Darah – Asupan cairan yang tepat membantu menjaga volume dan tekanan darah tetap stabil.

Keseimbangan Elektrolit – Air mendukung keseimbangan elektrolit yang penting bagi fungsi organ tubuh.

Mencegah Infeksi Saluran Kemih – Terutama pada wanita yang memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi saluran kemih.

Mengapa Minuman Bisa Lebih Berbahaya?

Dr. Hans mengidentifikasi tiga faktor yang membuat minuman berpotensi lebih merusak ginjal:

1. Kandungan yang Beragam

Industri minuman modern semakin kreatif menciptakan berbagai produk, termasuk yang diklaim sebagai “minuman sehat” seperti minuman kolagen, antiaging, detoks, atau minuman berserat. Namun, komposisi sebenarnya dari produk-produk ini perlu dicermati dengan teliti.

“Meskipun brandingnya minuman sehat, tetap harus hati-hati dengan kandungannya,” tegas dr. Hans.

2. Frekuensi Konsumsi

Perbedaan antara mengonsumsi minuman tidak sehat sekali sebulan dengan sekali sehari tentu memberikan dampak yang sangat berbeda pada ginjal. Konsumsi rutin harian jauh lebih berisiko dibanding konsumsi sesekali.

3. Volume yang Dikonsumsi

Jumlah atau porsi minuman yang diminum juga mempengaruhi tingkat risiko. Minuman berukuran jumbo memberikan beban lebih besar pada ginjal dibanding porsi kecil.

“Jangan jadikan alasan ‘saya minum sedikit’ sebagai pembenaran jika frekuensinya sering,” pesan dr. Hans.

Pesan untuk Masyarakat

Kesadaran akan kesehatan ginjal perlu ditingkatkan sejak dini. Jangan menunggu hingga fungsi ginjal rusak parah dan harus membatasi asupan cairan.

Dr. Hans menegaskan, “Sebelum kita punya masalah yang parah, justru kita perlu memperhatikan apa yang kita minum dan seberapa banyak volume yang kita perlukan. Tiap orang kebutuhannya berbeda-beda, bukan semakin banyak semakin baik.”

Pemahaman yang tepat tentang faktor risiko dan pencegahan sejak dini menjadi kunci menjaga kesehatan ginjal jangka panjang. Konsultasi dengan tenaga medis profesional sangat disarankan untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kondisi individu.


Sumber: Dr. Hans – SB30 Health Disclaimer: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional


RADIO SUARA BERSATU FM