PUNGGAWAFOOD, Ada hidangan yang lahir dari kemewahan—dipenuhi rempah eksotis, bumbu berlapis, dan presentasi yang memukau. Tapi ada juga hidangan yang lahir dari kesederhanaan—minimalis dalam bumbu, namun maksimal dalam makna. Gantala Jarang adalah yang terakhir. Ia bukan hidangan yang berisik dengan bumbu, tapi justru dalam keheningannya, ia bercerita tentang sejarah, tradisi, dan identitas sebuah tanah bernama Jeneponto.
Perkenalan dengan Harta Karun Tersembunyi Sulawesi Selatan
Ketika orang berbicara tentang kuliner Sulawesi Selatan, yang pertama muncul biasanya adalah Coto Makassar dengan kuah kental berwarna coklat pekatnya, Sop Saudara dengan daging sapi empuknya, atau Pallubasa dengan racikan rempah yang kompleks. Tapi ada satu hidangan yang sering terlewat dari perbincangan, padahal ia adalah bagian penting dari identitas kuliner Jeneponto—sebuah kabupaten yang dikenal juga dengan nama Turatea.
Namanya Gantala Jarang—atau dalam ejaan lokal, Gantalak Jarang.
Bagi yang belum pernah mendengarnya, nama ini mungkin terdengar asing. Tapi bagi masyarakat Jeneponto, terutama mereka yang tumbuh di tengah adat dan tradisi Turatea, Gantala Jarang adalah lebih dari sekadar makanan. Ia adalah simbol budaya, bagian dari ritual sosial, dan warisan yang diwariskan turun-temurun dengan bangga.

Tinggalkan Balasan