Arti di Balik Nama: Kuah Bening dan Daging Kuda

Dalam bahasa lokal Jeneponto, nama “Gantala Jarang” adalah deskripsi yang sangat jujur tentang apa hidangan ini sebenarnya:

  • Gantala = Kuah bening
  • Jarang = Kuda

Jadi, secara harfiah, Gantala Jarang berarti “kuah bening daging kuda”. Tidak ada eufemisme. Tidak ada nama romantis yang menyamarkan. Namanya adalah deskripsi apa adanya—dan itulah kejujuran kuliner yang langka di zaman di mana setiap hidangan butuh branding yang catchy.

Daging kuda sebagai bahan utama memang membuat Gantala Jarang menjadi hidangan yang kontroversial bagi sebagian orang. Di banyak budaya, termasuk di sebagian besar Indonesia, daging kuda jarang dikonsumsi—baik karena alasan budaya, agama, maupun preferensi pribadi. Tapi di Jeneponto, tradisi mengonsumsi daging kuda sudah ada sejak ratusan tahun lalu, dan Gantala Jarang adalah bukti hidup dari tradisi itu.

Kesederhanaan yang Berani: Bumbu Minimal, Rasa Maksimal

Inilah yang membuat Gantala Jarang unik dan sekaligus menantang: kesederhanaannya yang berani.

Di tengah tren kuliner modern yang berlomba-lomba menambahkan rempah-rempah eksotis, fusion flavor, dan presentasi Instagram-able, Gantala Jarang tetap setia pada formula tradisionalnya yang sangat minimalis:


RADIO SUARA BERSATU FM