Bahan Utama:

  • Daging kuda yang dipotong-potong
  • Garam kasar sebagai bumbu utama
  • Akar-akar kayu tertentu yang memberikan aroma khas
  • Kunyit dalam jumlah sedikit untuk warna dan aroma ringan
  • Air untuk merebus

Itu saja. Tidak ada bawang bombay, tidak ada lada hitam, tidak ada jintan atau ketumbar, tidak ada serai atau daun salam. Hanya daging, garam, akar kayu, kunyit, dan waktu.

Proses Memasak yang Penuh Kesabaran:

Daging kuda direbus dalam wadah khusus—biasanya berupa potongan drum bekas yang telah dibersihkan dan dimodifikasi menjadi panci besar—dalam waktu yang sangat lama. Tidak ada shortcut. Tidak ada pressure cooker. Hanya api yang perlahan, perlahan melunakkan daging yang terkenal alot, sambil membiarkan rasa alami daging kuda keluar dan bercampur dengan kuah yang bening.

Hasilnya? Kuah bening yang jernih, bukan keruh atau kental. Tidak ada santan, tidak ada rempah yang membuat kuah berwarna gelap. Ini adalah kuah yang jujur—transparan, sederhana, namun penuh rasa.

Filosofi di Balik Kesederhanaan:

Berbeda dengan olahan daging kaya rempah khas Makassar seperti Coto atau Pallubasa yang “berisik” dengan bumbu, penampilan Gantala Jarang sangat sederhana. Dan itulah kekuatannya. Dengan minimnya bumbu, rasa khas daging kuda sangat terasa—tidak ditutupi, tidak disamarkan, tidak dimanipulasi.


RADIO SUARA BERSATU FM