Ini adalah hidangan yang menghormati bahan utamanya. Daging kuda punya rasa yang berbeda dari daging sapi atau kambing—lebih manis secara alami, sedikit lebih “gamey” (beraroma hewan), dan teksturnya yang khas. Gantala Jarang membiarkan semua karakteristik itu bersinar tanpa gangguan.
Ini adalah filosofi kuliner yang langka: percaya pada bahan, bukan pada bumbu.
Makna Budaya: Lebih dari Sekadar Makanan
Gantala Jarang bukan hidangan sehari-hari. Ia bukan sesuatu yang dibuat untuk sarapan biasa atau makan malam cepat. Ia adalah hidangan yang hadir dalam momen-momen penting—dalam perayaan, dalam ritual, dalam pertemuan keluarga besar.
Makanan Wajib dalam Pesta Perkawinan
Di kalangan masyarakat Jeneponto (Turatea), Gantala Jarang adalah salah satu makanan yang harus ada dalam berbagai acara adat, terutama pesta perkawinan. Kehadirannya bukan pilihan, tapi kewajiban budaya. Tanpa Gantala Jarang, pesta terasa tidak lengkap—seperti ada yang hilang, ada yang kosong.
Mengapa? Karena Gantala Jarang adalah simbol penghormatan kepada tamu, kepada tradisi, dan kepada leluhur yang telah menetapkan adat. Ia adalah cara masyarakat Jeneponto mengatakan: “Kami menghormati Anda dengan menyajikan hidangan yang paling autentik, paling tradisional, paling bermakna bagi kami.”

Tinggalkan Balasan