Yang menarik, ketupat tidak hanya menjadi milik umat Islam. Hingga kini, masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu juga menyajikan ketupat dalam berbagai upacara adat mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa ketupat telah menjadi bagian dari khazanah kuliner Nusantara yang melampaui batas-batas agama dan kepercayaan.

Menjelma Ikon Kuliner Nusantara

Kepopuleran ketupat kini telah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia, menjadi komponen penting dalam beragam hidangan khas daerah. Mulai dari kupat tahu khas Sunda, Coto Makassar, ketupat sayur Padang, Sate Padang, Laksa Cibinong, hingga doclang Cirebon—semuanya menjadikan ketupat sebagai elemen utama yang tak tergantikan.

Dalam kalender budaya Jawa, bahkan terdapat perayaan khusus bernama Lebaran Ketupat yang jatuh pada tanggal 7 atau 8 Syawal, sekitar seminggu pasca Idul Fitri. Tradisi ini merupakan wujud syukur masyarakat yang telah menyelesaikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Media Dakwah Sunan Kalijaga

Dalam perjalanan sejarahnya, ketupat bahkan pernah dimanfaatkan sebagai media dakwah. Sunan Kalijaga, salah satu wali penyebar Islam di Tanah Jawa, menjadikan ketupat sebagai sarana untuk mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat. Dengan memanfaatkan kearifan lokal yang sudah mengakar, sang sunan berhasil menjadikan ketupat sebagai simbol Lebaran Ketupat yang kental dengan nilai-nilai Islam.

Kini, setelah berabad-abad silam, ketupat tetap kokoh menjadi bagian identitas kuliner Indonesia. Dari ritual pra-Islam hingga menjadi ikon lebaran, perjalanan ketupat membuktikan bagaimana kuliner dapat menjadi jembatan budaya yang mempersatukan berbagai lapisan masyarakat Nusantara.


RADIO SUARA BERSATU FM