PUNGGAWAFOOD– Setiap kali Hari Raya Idul Fitri tiba, aroma ketupat yang tengah direbus selalu memenuhi dapur-dapur rumah warga Indonesia. Hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur ini bukan sekadar menu pelengkap sajian lebaran, melainkan menyimpan rangkaian sejarah panjang yang mengakar sejak era kerajaan Nusantara.

Ketupat, dengan bentuk khasnya yang menyerupai belah ketupat atau wajik, kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi perayaan umat Islam di Indonesia. Makanan yang kerap disantap bersama opor ayam atau sayur labu berkuah santan ini ternyata memiliki akar budaya yang jauh lebih tua dari agama Islam itu sendiri.

Akar Historis dari Masa Hindu-Buddha

Merujuk pada catatan sejarah dalam buku “Indonesia Punya Cerita Kebudayaan dan Kebiasaan Unik di Indonesia” karya Yusuf dan Toet, keberadaan ketupat telah tercatat sejak abad ke-13 Masehi. Pada masa Kerajaan Majapahit yang menganut kepercayaan Hindu-Buddha, ketupat sudah menjadi bagian penting dalam ritual keagamaan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, ketupat digunakan sebagai sesaji dalam upacara selamatan yang digelar para petani usai musim panen. Ritual ini dipersembahkan untuk Dewi Sri, sosok yang dipercaya sebagai dewi padi dan kemakmuran dalam kepercayaan Jawa kuno. Masyarakat petani kala itu meyakini, persembahan ketupat kepada Dewi Sri merupakan wujud syukur atas hasil panen sekaligus permohonan perlindungan dari bencana di masa mendatang.

Memasuki abad ke-15, tepatnya pada masa Kesultanan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah, ketupat mulai diasosiasikan dengan perayaan Idul Fitri. Penggunaan daun kelapa muda atau janur sebagai pembungkus mencerminkan karakter geografis masyarakat pesisir Jawa yang dikelilingi perkebunan kelapa.

Sarat Makna Filosofis dalam Setiap Anyaman

Lebih dari sekadar makanan, ketupat mengandung filosofi mendalam yang diajarkan turun-temurun. Kata “ketupat” atau “kupat” dalam bahasa Jawa dipercaya berasal dari frasa “ngaku lepat” yang bermakna mengakui kesalahan. Tradisi menyajikan ketupat saat lebaran mengandung harapan agar umat Islam dapat saling memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu.

Sementara itu, pasangan sejoli ketupat dengan kuah santan juga tidak lepas dari pesan moral. Dalam bahasa Jawa, santan disebut “santen” yang bermakna “pangapunten” atau permohonan maaf, semakin memperkuat simbolisme rekonsiliasi dalam tradisi lebaran.

Bagi masyarakat Jawa, setiap elemen ketupat memiliki makna tersendiri. Janur kuning yang melilit nasi dipercaya sebagai penangkal marabahaya. Bentuk geometris persegi empat atau belah ketupat mencerminkan konsep “kiblat papat lima pancer”, sebuah filosofi Jawa yang mengajarkan keseimbangan hidup dan keyakinan bahwa manusia akan selalu kembali kepada Sang Pencipta.

Anyaman janur yang rumit dan berlapis-lapis melambangkan kompleksitas dosa dan kesalahan manusia. Namun ketika ketupat dibelah, nasi putih yang bersih di dalamnya menjadi simbol kesucian jiwa setelah memohon ampunan. Adapun beras sebagai bahan dasarnya merepresentasikan harapan akan kemakmuran setelah melewati hari kemenangan.

Dari Sekaten hingga Tradisi Lintas Agama

Mengutip NU Online, popularitas ketupat terus berlanjut pada masa Kerajaan Mataram Islam. Buktinya terlihat dari kehadiran ketupat dalam berbagai upacara keraton di Solo, Yogyakarta, dan Cirebon, khususnya dalam rangkaian tradisi sekaten atau grebeg mulud yang digelar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW setiap 12 Rabiul Awal.

Yang menarik, ketupat tidak hanya menjadi milik umat Islam. Hingga kini, masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu juga menyajikan ketupat dalam berbagai upacara adat mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa ketupat telah menjadi bagian dari khazanah kuliner Nusantara yang melampaui batas-batas agama dan kepercayaan.

Menjelma Ikon Kuliner Nusantara

Kepopuleran ketupat kini telah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia, menjadi komponen penting dalam beragam hidangan khas daerah. Mulai dari kupat tahu khas Sunda, Coto Makassar, ketupat sayur Padang, Sate Padang, Laksa Cibinong, hingga doclang Cirebon—semuanya menjadikan ketupat sebagai elemen utama yang tak tergantikan.

Dalam kalender budaya Jawa, bahkan terdapat perayaan khusus bernama Lebaran Ketupat yang jatuh pada tanggal 7 atau 8 Syawal, sekitar seminggu pasca Idul Fitri. Tradisi ini merupakan wujud syukur masyarakat yang telah menyelesaikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Media Dakwah Sunan Kalijaga

Dalam perjalanan sejarahnya, ketupat bahkan pernah dimanfaatkan sebagai media dakwah. Sunan Kalijaga, salah satu wali penyebar Islam di Tanah Jawa, menjadikan ketupat sebagai sarana untuk mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat. Dengan memanfaatkan kearifan lokal yang sudah mengakar, sang sunan berhasil menjadikan ketupat sebagai simbol Lebaran Ketupat yang kental dengan nilai-nilai Islam.

Kini, setelah berabad-abad silam, ketupat tetap kokoh menjadi bagian identitas kuliner Indonesia. Dari ritual pra-Islam hingga menjadi ikon lebaran, perjalanan ketupat membuktikan bagaimana kuliner dapat menjadi jembatan budaya yang mempersatukan berbagai lapisan masyarakat Nusantara.


RADIO SUARA BERSATU FM