BANJARNEGARA, PUNGGAWAFOOD – Selama ini, singkong sering dianggap sebagai bahan pangan biasa. Paling mentok direbus, digoreng, dibuat getuk, tape, keripik, atau jadi camilan sore yang nasibnya tergantung ada kopi atau tidak. Padahal, singkong sebenarnya punya peluang yang jauh lebih besar. Masalahnya, bahan lokal seperti ini sering baru dianggap menarik kalau sudah dikemas rapi, diberi merek, lalu dijual dengan cerita yang lebih meyakinkan. Kalau masih bentuk umbi di kebun, ya dianggap biasa saja.

Dari Desa Punggelan, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, muncul contoh menarik tentang bagaimana singkong bisa diolah menjadi produk yang lebih bernilai. Johan Irawan mengembangkan gula singkong cair berbahan dasar tapioka dari singkong. Produk ini mulai mendapat perhatian karena tidak hanya dijual sebagai olahan rumahan, tetapi sudah masuk ke pasar yang lebih luas sebagai alternatif pemanis untuk kebutuhan makanan dan minuman. Pemkab Banjarnegara menyebut produk ini mulai diminati pasar nasional dan diproduksi untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah.

Yang membuat cerita ini menarik bukan hanya karena bahan dasarnya singkong, tetapi karena skalanya sudah cukup serius. Dalam laporan terbaru, produksi gula singkong cair dari Punggelan disebut mencapai sekitar 3 sampai 4 ton per bulan. Pasarnya juga tidak hanya di sekitar Banjarnegara atau Jawa Tengah, tetapi sudah menjangkau Kalimantan Timur, Riau, Lampung, Jawa Timur, Yogyakarta, dan beberapa wilayah di Pulau Jawa. Salah satu pasar terbesarnya berada di Tenggarong, Kalimantan Timur, karena produk ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan sirup.

Di sinilah singkong mulai terlihat punya wajah baru. Bukan lagi sekadar bahan murah yang dijual setelah panen, tetapi bisa menjadi bagian dari rantai industri makanan dan minuman. Ini penting, karena selama ini banyak komoditas desa berhenti terlalu cepat di bentuk mentah. Petani menanam, panen, lalu menjual secepat mungkin. Setelah itu, pihak lain yang mengolah, mengemas, memberi merek, dan menikmati nilai tambah yang jauh lebih besar. Ya begitulah nasib banyak bahan lokal. Yang capek menanam sering dapat bagian paling tipis, sementara yang jago mengolah dan menjual bisa mengambil nilai lebih besar.



Follow Widget