Kalau dilihat dari sisi ekonomi, nilai utama produk ini ada pada pengolahan. Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah pernah mencatat bahwa Johan mengembangkan gula cair berbahan tepung singkong atau pati. Dalam arsip tersebut, produk ini juga disebut sudah digunakan oleh konsumen untuk kebutuhan industri makanan, kue, dan yoghurt. Artinya, sejak beberapa tahun lalu, arahnya memang bukan hanya menjual produk kecil-kecilan, tetapi masuk ke kebutuhan pelaku usaha makanan.
Cerita ini juga menunjukkan bahwa inovasi desa tidak harus selalu terlihat megah. Tidak harus dimulai dari gedung besar, alat super mahal, atau presentasi bisnis yang penuh istilah asing. Kadang inovasi dimulai dari pertanyaan sederhana, bahan yang melimpah di sekitar bisa diolah jadi apa supaya nilainya naik? Pertanyaan seperti ini kelihatannya sepele, tapi dampaknya bisa besar. Karena kalau bahan lokal hanya dijual mentah, harganya mudah ditekan. Begitu diolah menjadi produk siap pakai, posisinya berubah.
Singkong sendiri memang bukan bahan yang kecil potensinya. Laporan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian menyebut ubi kayu atau singkong dapat diolah menjadi berbagai produk, termasuk gula cair high fructose, pakan ternak, dan bioetanol. Ini menunjukkan bahwa singkong bukan sekadar bahan pangan tradisional, tetapi juga bisa menjadi bahan baku industri.
Dengan kata lain, apa yang dilakukan di Punggelan sebenarnya masuk dalam arah besar pemanfaatan komoditas lokal. Bedanya, ini bukan hanya dibahas di dokumen atau seminar, tetapi sudah dipraktikkan menjadi produk yang dikirim ke berbagai daerah. Kadang yang dibutuhkan memang bukan sekadar wacana tentang potensi desa, karena kata potensi sudah terlalu sering dipakai sampai terasa seperti janji yang belum tentu jadi. Yang lebih penting adalah contoh nyata bahwa bahan lokal bisa diolah, dipasarkan, dan dibeli orang.

Tinggalkan Balasan