PUNGGAWAFOOD – Ada jenis makanan yang kerap sulit diurai lewat ukuran teknis seperti tingkat gurih, pedas, atau kompleksitas bumbu. Hidangan itu justru sering hadir dalam bentuk sederhana, namun memiliki daya tarik emosional yang kuat. Kita mengenalnya sebagai “masakan ibu”, “masakan rumah”, atau dalam istilah populer, comfort food—sebuah sebutan yang sudah terasa hangat bahkan sebelum makanan itu disantap.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman rasa tidak semata ditentukan oleh komposisi bahan atau teknik memasak. Bahasa yang kita gunakan untuk menyebut makanan turut membentuk persepsi kita. Dalam konteks ini, kuliner tidak lagi sekadar aktivitas memasak, melainkan juga praktik budaya dan bahasa yang sarat makna.

Dalam kajian semiotika, Roland Barthes sejak 1961 telah melihat makanan sebagai sistem tanda. Makanan, menurutnya, bukan hanya dikonsumsi, tetapi juga “dibaca”. Ia memuat simbol-simbol sosial, emosi, hingga identitas. Ketika seseorang menyebut sebuah hidangan sebagai “masakan ibu”, yang dimaksud bukanlah resep, melainkan rangkaian makna: rumah, perhatian, masa kecil, hingga rasa aman.

Penelitian di bidang budaya dan psikologi memperkuat pandangan ini. Studi oleh Sheryl E. Locher dan rekan-rekannya pada 2005 menunjukkan bahwa comfort food lebih sering terkait dengan nostalgia dan kebutuhan emosional ketimbang kebutuhan biologis semata. Menariknya, jenis makanan yang dianggap memberi kenyamanan bisa berbeda di tiap budaya, namun bahasa yang menyertainya hampir selalu sama: hangat, dekat, dan personal.



Follow Widget