Dalam perspektif linguistik kognitif, George Lakoff dan Mark Johnson menjelaskan bahwa manusia memahami hal abstrak melalui metafora. Rasa aman, misalnya, kerap diasosiasikan dengan “kehangatan” atau “rumah”. Tak heran jika makanan yang memberi rasa nyaman sering diberi label yang merujuk pada ruang domestik dan relasi keluarga.
Di Indonesia, praktik bahasa seperti ini sangat terasa. Alih-alih menyebut “hidangan tradisional dengan teknik sederhana”, masyarakat lebih memilih istilah “masakan ibu”. Secara linguistik, ini merupakan bentuk metonimia—di mana satu kata, “ibu”, mewakili keseluruhan pengalaman yang lebih luas: kasih sayang, perhatian, dan perawatan.
Penggunaan istilah ini juga meluas ke ranah komersial. Banyak rumah makan mengandalkan label “masakan rumahan” atau “rasa rumah” untuk menarik pelanggan. Dalam konteks ini, kata “rumahan” bukan lagi deskripsi objektif tentang rasa, melainkan janji emosional—sebuah pengalaman yang akrab dan menenangkan. Bahasa menjadi penghubung antara memori pribadi dan konsumsi publik.
Ahli linguistik Dan Jurafsky dalam bukunya The Language of Food (2014) menegaskan bahwa pilihan kata dalam menu sangat berkaitan dengan identitas sosial dan nilai budaya. Istilah seperti “homestyle”, “traditional”, atau “grandma’s recipe” secara konsisten memunculkan kesan keaslian dan kehangatan, meski tidak selalu mencerminkan proses memasak yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan