Hal ini diperkuat oleh riset Charles Spence di bidang gastrofisika. Ia menemukan bahwa persepsi rasa sangat dipengaruhi oleh ekspektasi yang dibangun sebelum makanan disantap. Label, cerita, dan deskripsi mampu mengubah pengalaman makan. Sebuah hidangan yang disebut comfort food cenderung terasa lebih menenangkan, bahkan jika secara rasa tidak terlalu istimewa.
Meski demikian, penggunaan bahasa semacam ini juga menyimpan risiko. Jika semua makanan dilabeli “rumahan” atau “comfort”, maknanya bisa menjadi kabur. Bahasa yang digunakan secara berlebihan tanpa refleksi berpotensi kehilangan daya emosionalnya.
Di sisi lain, istilah “masakan ibu” juga mengandung dimensi gender yang jarang dibahas. Frasa ini secara implisit menempatkan aktivitas memasak dalam ranah domestik perempuan dan membingkainya sebagai ekspresi kasih sayang, bukan kerja yang bernilai ekonomi. Dalam kajian sosiolinguistik, hal ini menjadi catatan penting agar kehangatan bahasa tidak menutupi realitas sosial di baliknya.
Namun, sulit dipungkiri bahwa bahasa kuliner memiliki kekuatan simbolik yang besar. Ia menghubungkan makanan dengan pengalaman hidup, menghadirkan rasa pulang di tengah rutinitas yang serba cepat. Pada akhirnya, orang tidak hanya mencari makanan yang enak, tetapi juga makanan yang memberi rasa tenang—meski hanya lewat sepiring nasi sederhana.

Tinggalkan Balasan