BANTUL, PUNGGAWAFOOD – Tidak ada logo. Tidak ada feed Instagram yang tertata rapi. Tidak ada strategi diskon launching. Yang ada hanya tungku, kayu bakar, dan seorang perempuan yang setiap pagi memasak dengan niat yang sama selama puluhan tahun. Dari dapur sederhana di Bantul itulah Mangut Lele Mbah Marto tumbuh menjadi salah satu kuliner paling ikonik di Yogyakarta.
Mbah Marto memulai perjalanan bisnisnya sekitar akhir tahun 1960-an. Bukan dengan membuka warung mewah, melainkan dengan berjalan kaki menjajakan makanan menggunakan tenggok—bakul bambu besar khas Jawa. Dari Bantul, ia melangkah menuju pusat kota, bahkan sampai ke kawasan Pasar Beringharjo. Jaraknya bisa mencapai hampir 20 kilometer pulang pergi, setiap hari, tanpa ojek online, tanpa layanan antar.
Bayangkan tubuh yang lelah, bakul yang penuh, dan harapan bahwa semua masakan pagi itu habis sebelum sore tiba. Itulah cara Mbah Marto memulai usaha yang kini namanya disebut-sebut ketika orang berbicara tentang kuliner wajib Jogja.
Mangut lele sebenarnya bukan masakan yang rumit dijelaskan. Dasarnya sederhana: ikan lele dimasak dengan bumbu rempah dan santan. Namun di tangan Mbah Marto, prosesnya berbeda. Lele diasap terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kuah berbumbu pedas yang kaya rempah. Cabai, bawang, jahe, lengkuas, daun salam, daun jeruk—semua menyatu dalam satu kuah yang gurih, hangat, dan berdalam rasa.

Tinggalkan Balasan