Ada hal yang lebih penting dari semua itu: kepercayaan. Orang percaya rasa di sana tidak berubah jauh. Orang percaya mangut lele itu dibuat dengan cara yang sudah dijaga lama. Dan kepercayaan seperti itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Ia lahir dari pengulangan panjang—bangun pagi, menyiapkan bahan, memasak, melayani, lalu mengulang lagi besoknya, bertahun-tahun lamanya.

Resep bisa ditiru. Bumbu bisa dibedah. Cara masak bisa dipelajari. Tapi ketekunan menjaga rasa selama puluhan tahun? Tidak semua orang sanggup. Banyak yang semangat di awal, lalu goyah saat sepi pembeli, saat badan lelah, saat kompetitor bermunculan, saat zaman berubah. Di titik itulah usaha sesungguhnya diuji.

Mbah Marto melewati semua ujian itu. Dari berjualan keliling dengan bakul, berpindah tempat, hingga akhirnya membuka warung di rumah sendiri di Bantul. Dari dagangan yang dulu ditanggung sendiri di pundak, sampai kemudian orang-orang dari berbagai daerah datang mencarinya. Dari makanan sederhana, menjadi kuliner wajib yang mewakili identitas rasa Yogyakarta.

Pada 6 November 2024, Mbah Marto berpulang di usia 96 tahun. Namun nama dan warungnya tetap hidup, diteruskan oleh keluarga yang mewarisi bukan hanya resep, melainkan juga cara berpikir: sederhana, tekun, dan tidak mengkhianati kepercayaan pelanggan.



Follow Widget