PUNGGAWANEWS – Memasuki bulan Ramadan, banyak masyarakat yang mulai mempersiapkan berbagai asupan untuk menjaga stamina selama berpuasa. Tak hanya makanan bergizi, berbagai suplemen dan multivitamin juga menjadi pilihan untuk memastikan tubuh tetap bugar sepanjang hari.

Di antara berbagai pilihan tersebut, madu menjadi salah satu suplemen alami yang banyak dikonsumsi masyarakat saat sahur maupun berbuka puasa. Lantas, apa saja manfaat sebenarnya dari konsumsi madu selama berpuasa?

Dr. Lona, seorang spesialis farmakologi klinik, memberikan penjelasan mengenai fakta dan mitos seputar konsumsi madu yang perlu dipahami masyarakat.

Sumber Energi yang Efektif

Menurut Dr. Lona, klaim bahwa madu dapat menjadi sumber energi saat sahur adalah fakta. Dalam satu sendok teh madu terkandung sekitar 17 gram karbohidrat dengan nilai indeks glikemik yang berkisar antara 35-48.

“Nilai indeks glikemik madu lebih rendah dibandingkan dengan pemanis buatan, sehingga lebih aman dikonsumsi,” jelasnya.

Namun, Dr. Lona mengingatkan bahwa madu tidak boleh menjadi satu-satunya asupan saat sahur. Menu sahur yang ideal harus tetap mencakup kurma, sayuran seperti mentimun dan tomat, sumber protein seperti ayam dan ikan, serta lemak sehat dari alpukat atau ikan salmon.

Menurunkan Trigliserida? Belum Cukup

Terkait klaim bahwa madu dapat menurunkan trigliserida atau lemak darah, Dr. Lona menyebutkan hal ini masih tergolong mitos.

Meskipun kandungan flavonoid dan niasin dalam madu terbukti dalam penelitian pada hewan dapat menurunkan kadar trigliserida, namun pada manusia, konsumsi madu saja tidak cukup efektif.

“Untuk menurunkan lemak darah, diperlukan upaya komprehensif seperti membatasi asupan lemak jenuh dan makanan bertepung tinggi, berolahraga rutin, dan jika perlu mengonsumsi obat yang diresepkan dokter,” tambahnya.

Meredakan Gejala Asam Lambung

Kabar baik bagi penderita asam lambung, klaim bahwa madu dapat mengurangi gejala asam lambung ternyata adalah fakta.

Dr. Lona menjelaskan, madu memiliki aktivitas gastroprotektor yang melindungi mukosa atau selaput lendir lambung. Madu juga memiliki efek antiradang, menyeimbangkan pH lambung, serta membantu proses penyembuhan luka pada dinding lambung.

Akan tetapi, untuk mengatasi keluhan dispepsia secara menyeluruh, pasien tetap perlu makan dalam porsi kecil namun sering, mengurangi konsumsi minuman bersoda dan kafein, serta mengelola stres dengan baik.

Mempercepat Penyembuhan Luka

Manfaat madu dalam mempercepat penyembuhan luka juga merupakan fakta berdasarkan berbagai penelitian.

Sifat asam pada madu menciptakan lingkungan yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada luka. Selain itu, madu membuat kulit yang terluka tetap lembab dan mempercepat proses pembentukan jaringan baru.

“Namun untuk luka yang dalam atau memerlukan jahitan, tetap harus mendapatkan penanganan dari tenaga medis profesional,” tegas Dr. Lona.

Meredakan Flu Masih Memerlukan Konfirmasi

Soal kemampuan madu meredakan gejala flu, Dr. Lona menyatakan ini masih tergolong mitos.

Meskipun madu kaya akan vitamin, mineral, fenol, koloid, dan enzim yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh, namun untuk menyembuhkan flu dan batuk diperlukan pendekatan yang lebih lengkap. Istirahat cukup, konsumsi makanan bergizi, minum air putih yang cukup, serta membatasi kafein dan alkohol tetap menjadi kunci utama pemulihan.

Aman untuk Penderita Diabetes

Yang menarik, klaim bahwa madu baik untuk penderita diabetes melitus ternyata adalah fakta.

Fruktosa atau gula alami dalam madu dapat meningkatkan penyerapan glukosa di liver. Kandungan flavonoid dan flavon yang merupakan antioksidan juga dapat membantu mengatur metabolisme lipid dan karbohidrat dalam tubuh.

“Namun konsumsi madu untuk penderita diabetes harus tetap dikontrol ketat, maksimal 70 gram per hari. Tetap batasi asupan kalori, olahraga rutin, dan konsumsi obat sesuai resep dokter,” jelas Dr. Lona.

Alternatif Pengganti Gula

Penggunaan madu sebagai pengganti gula juga dikonfirmasi sebagai fakta yang aman.

Madu merupakan pemanis alami dengan kandungan gula didominasi fruktosa, sama seperti yang terdapat pada buah-buahan. Namun, jumlah konsumsinya tetap harus dibatasi karena madu tetap dapat menaikkan kadar gula darah seperti gula pada umumnya.

Tips Konsumsi Madu yang Benar

Dr. Lona memberikan beberapa tips penting dalam mengonsumsi madu:

Pertama, madu dapat dikonsumsi tiga kali sehari pada pagi, siang, atau sore hari. Namun waktu terbaik adalah pagi hari karena dapat memberikan suplai energi untuk aktivitas sepanjang hari.

Kedua, hindari menggunakan sendok berbahan logam saat mengambil madu karena dapat terjadi interaksi antara logam dengan kandungan aktif madu yang menurunkan kualitasnya.

Ketiga, jangan mencampur madu dengan air panas karena dapat merusak enzim-enzim penting di dalamnya dan mengurangi manfaatnya.

Dengan memahami fakta dan mitos seputar madu, masyarakat diharapkan dapat mengonsumsi suplemen alami ini dengan lebih bijak selama bulan Ramadan maupun di hari-hari biasa.


RADIO SUARA BERSATU FM