Soal harga, satu porsi coto Makassar dibanderol sekitar 170 dolar Taiwan atau setara Rp90 ribu, sementara es pisang ijo dijual seharga 150 dolar Taiwan atau sekitar Rp80 ribu. Harga tersebut dinilai wajar untuk ukuran Taichung, kota terbesar ketiga di Taiwan.
Warung ini buka setiap Kamis hingga Minggu. Pada akhir pekan, Nita mengaku bisa menjual hingga 200 porsi untuk satu menu saja, dengan omzet mencapai sekitar Rp18 juta per hari.
Mayoritas pelanggan berasal dari komunitas WNI di Taiwan, dengan komposisi sekitar 40 persen warga Makassar, disusul masyarakat dari NTB dan Sulawesi lainnya. Menariknya, sekitar 20 persen pelanggan merupakan warga Taiwan dan 5 persen lainnya warga Korea Selatan.
Selain melayani makan di tempat, Nita juga menyediakan layanan pesan antar untuk wilayah sekitar Taichung. Strategi promosi melalui media sosial turut membantu memperluas jangkauan pelanggan.
Kisah Nita menjadi bukti bahwa kuliner Nusantara memiliki daya saing global. Dengan keberanian, konsistensi, dan cita rasa autentik, usaha kuliner Indonesia mampu berkembang dan menghasilkan keuntungan bahkan di negeri orang.

Tinggalkan Balasan