PUNGGAWAFOOD, Taichung — Kuliner khas Sulawesi Selatan kini tak hanya bisa dinikmati di Makassar atau kota-kota besar di Indonesia. Di Kota Taichung, Taiwan, sebuah warung Coto Makassar justru menjelma menjadi primadona dan ladang cuan bagi pemiliknya, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) asal Makassar bernama Nita.

YouTube player

Meski belum genap setahun beroperasi, warung coto Makassar ini sudah ramai diserbu pelanggan. Beragam menu khas Indonesia timur disajikan secara lengkap, mulai dari coto Makassar, buras, coto ayam, bebek rica-rica, hingga es pisang ijo yang menjadi menu andalan.

Nita mengaku kecintaannya pada kuliner Sulawesi Selatan sudah tumbuh sejak kecil. Keahliannya meracik masakan khas daerah menjadi modal utama untuk membuka usaha kuliner di negeri orang. Meski sempat diragukan banyak pihak karena masakan Makassar belum populer di Taiwan, Nita tetap mantap melangkah dengan tujuan memperkenalkan budaya kuliner Indonesia kepada masyarakat internasional.

“Banyak yang bilang ini nekat karena bukan masakan Jawa, sementara mayoritas WNI di sini orang Jawa. Tapi justru itu tantangannya,” ujar Nita.

Menjadi satu-satunya warung kuliner khas Sulawesi Selatan di Taichung, Nita melihat peluang besar. Ia menyusun menu lengkap dengan cita rasa autentik. Coto Makassar menjadi menu terlaris, disusul es pisang ijo yang disebut-sebut sebagai satu-satunya di Taiwan.

Menariknya, dapur warung ini juga diisi oleh tenaga asing. Suami Nita, Christopher, warga negara Amerika Serikat, ikut turun langsung membantu memasak. Bersama tiga karyawan asal Indonesia, mereka memastikan seluruh menu disajikan dengan rasa otentik.

Untuk menjaga keaslian cita rasa, sejumlah bumbu khas Indonesia didatangkan langsung dari Tanah Air karena tidak tersedia di Taiwan, seperti lengkuas dan serai. Hal ini menuntut Nita cermat dalam mengatur pasokan bahan baku dan waktu pengiriman.

Soal harga, satu porsi coto Makassar dibanderol sekitar 170 dolar Taiwan atau setara Rp90 ribu, sementara es pisang ijo dijual seharga 150 dolar Taiwan atau sekitar Rp80 ribu. Harga tersebut dinilai wajar untuk ukuran Taichung, kota terbesar ketiga di Taiwan.

Warung ini buka setiap Kamis hingga Minggu. Pada akhir pekan, Nita mengaku bisa menjual hingga 200 porsi untuk satu menu saja, dengan omzet mencapai sekitar Rp18 juta per hari.

Mayoritas pelanggan berasal dari komunitas WNI di Taiwan, dengan komposisi sekitar 40 persen warga Makassar, disusul masyarakat dari NTB dan Sulawesi lainnya. Menariknya, sekitar 20 persen pelanggan merupakan warga Taiwan dan 5 persen lainnya warga Korea Selatan.

Selain melayani makan di tempat, Nita juga menyediakan layanan pesan antar untuk wilayah sekitar Taichung. Strategi promosi melalui media sosial turut membantu memperluas jangkauan pelanggan.

Kisah Nita menjadi bukti bahwa kuliner Nusantara memiliki daya saing global. Dengan keberanian, konsistensi, dan cita rasa autentik, usaha kuliner Indonesia mampu berkembang dan menghasilkan keuntungan bahkan di negeri orang.


RADIO SUARA BERSATU FM