MAKASSAR, PUNGGAWAFOOD – Makassar bukan sekadar kota pelabuhan yang sibuk — ia juga surga sarapan yang belum banyak diketahui orang luar. Di balik deretan ruko dan gedung bersejarah peninggalan Belanda, tersimpan kekayaan kuliner pagi yang sudah mengakar selama berabad-abad.
Salah satu tempat yang menjadi magnet para pencinta sarapan lokal adalah Mama Kafe, sebuah toko kue dan es krim yang berlokasi di Jalan Serui, Kota Makassar. Sejak pagi buta, tempat ini sudah ramai dikunjungi warga yang ingin memulai hari dengan cita rasa autentik khas Daeng City.
Mama Kafe buka mulai pukul 00.30 hingga pukul 12.00 siang — artinya, bahkan sebelum fajar menyingsing pun, dapur mereka sudah mengepul. Ini bukan sekadar kafe biasa. Ini adalah arsip kuliner hidup yang menyimpan resep turun-temurun dalam setiap gigitan.
Yang paling mencuri perhatian adalah deretan kue tradisional yang tersaji di etalase — warna-warni, harum, dan menggoda. Ada kati risala, sebuah jajanan berbahan dasar ketan dengan taburan gula merah di atasnya. Tekstur ketannya sangat lembut, dan rasa manisnya tidak berlebihan, pas di lidah.
Kemudian ada Apang Paranggi, kue yang dibuat dari tepung beras dan gula merah, lalu dipanggang dengan cetakan khusus. Aromanya begitu khas — wangi gula aren yang menguar hangat terasa menyambut siapapun yang mendekat. Cara paling nikmat menyantapnya adalah langsung dengan tangan, selagi masih hangat.
Barongko adalah kue wajib lainnya yang tidak boleh dilewatkan. Dibuat dari pisang yang dihaluskan dan dicampur santan, lalu dibungkus daun pisang sebelum dikukus. Rasanya manis alami dengan tekstur lembut yang khas — dan ini bukan sekadar kudapan biasa, melainkan bagian dari identitas kuliner Makassar yang sudah dikenal luas.
Satu lagi primadona di Mama Kafe adalah Bayoni Balu. Kue ini biasanya hadir dalam pesta pernikahan adat Bugis, dan keistimewaannya terletak pada isiannya: durian. Bagi pencinta durian, satu gigitan Bayoni Balu cukup untuk membuat pagi menjadi sempurna.
Selain kue-kue manis, Mama Kafe juga menyajikan songkolo — nasi ketan hitam yang disajikan bersama serundeng dan sambal. Dalam budaya masyarakat Makassar, songkolo bisa dinikmati kapan saja: pagi hari sebagai sarapan, atau tengah malam dalam tradisi yang dikenal dengan sebutan “Songkolo Bagadang.” Keduanya sah, keduanya nikmat.
Ada pula basang, semacam bubur yang terbuat dari jagung ketan putih dan disajikan dengan kuah santan serta gula pasir sebagai topping. Teksturnya kental dengan butiran jagung yang masih terasa, dan aromanya cukup khas untuk membangunkan selera makan di pagi hari.
Puncak dari pengalaman sarapan di Mama Kafe adalah nasi kuning. Di Makassar, nasi kuning bukan sekadar nasi biasa yang diberi warna dari kunyit. Ia datang bersama lauk yang beragam: telur busa, paru goreng, acar, daging topak merica — sajian yang konon hanya bisa ditemukan dalam versi otentiknya di Makassar — serta sayur lode, abon sapi, dan perkedel kentang. Sambal gorengnya menjadi pelengkap yang mengunci seluruh cita rasa.
Daging topak merica adalah elemen yang patut mendapat sorotan tersendiri. Tidak seperti lauk pendamping nasi kuning di daerah lain, topping satu ini membawa karakter kuat khas bumbu Makassar yang lebih berani dan kaya rempah.
Gedung tempat Mama Kafe berdiri pun bukan tanpa cerita. Bangunan bergaya kolonial Belanda yang masih terawat menjadikan tempat ini bukan hanya destinasi kuliner, tetapi juga spot foto yang populer. Tidak sedikit pasangan yang memilih lokasi ini untuk sesi foto prewedding, memanfaatkan estetika bangunan tua yang memiliki daya tarik visual tersendiri.
Makassar memang dikenal dengan kuliner beratnya seperti coto dan konro, tetapi sarapannya justru menawarkan pengalaman yang berbeda — lebih lembut, lebih manis, dan lebih personal. Ini adalah sisi Makassar yang jarang masuk ke dalam daftar rekomendasi wisata utama, padahal justru di sinilah jiwa kota ini paling terasa.
Bagi siapapun yang berkunjung ke Makassar — entah untuk urusan bisnis, wisata, atau sekadar transit — meluangkan waktu untuk sarapan di tempat seperti Mama Kafe adalah keputusan yang tidak akan disesali. Sebuah pagi yang dimulai dengan kue tradisional dan nasi kuning khas Makassar adalah pagi yang dimulai dengan benar.
FAQ
Apa saja menu sarapan khas Makassar yang wajib dicoba?
Beberapa menu ikonik yang wajib dicicipi antara lain songkolo (ketan hitam dengan serundeng dan sambal), barongko (kue pisang berkuah santan), Bayoni Balu (kue isi durian khas Bugis), serta nasi kuning dengan lauk lengkap termasuk daging topak merica yang hanya ada di Makassar.
Di mana bisa menemukan sarapan tradisional Makassar yang lengkap dan autentik?
Mama Kafe di Jalan Serui, Kota Makassar, adalah salah satu pilihan terbaik. Tempat ini buka mulai dini hari dan menyajikan berbagai kue tradisional, songkolo, basang, hingga nasi kuning lengkap dalam satu atap.
Apa itu Songkolo Bagadang dan mengapa populer di Makassar?
Songkolo Bagadang adalah tradisi menikmati ketan hitam (songkolo) di tengah malam. Bagi masyarakat Makassar, makanan ini tidak terbatas pada waktu tertentu — cocok disantap saat sarapan maupun larut malam, menjadikannya bagian dari budaya kuliner sehari-hari yang unik.

Tinggalkan Balasan