GROBOGAN, PUNGGAWAFOOD – Warung kaki lima di pojok Pasar Truko, Grobogan, itu buka pukul 08.00 pagi. Pukul 10.00, semua sudah habis. Dua jam—tidak lebih, tidak kurang. Itulah ritme harian Warung Tengkleng Ndeso milik Mas Jon, yang kini viral dan disebut-sebut sebagai salah satu fenomena kuliner paling nyata di Jawa Tengah.

Bukan sekadar lebay. Antrean pembeli sudah mengular bahkan sebelum kompor dinyalakan. Kursi di dalam warung langsung penuh begitu pintu dibuka. Sebagian pelanggan rela berdiri, sebagian lagi memesan lewat layanan antar. Semua demi semangkuk tengkleng yang dijual hanya Rp32.000 per porsi.

Warung ini berlokasi di sisi timur pertigaan Pasar Truko, kawasan Truko, Grobogan, Jawa Tengah. Posisinya strategis—dekat pasar, ramai lalu lalang—tapi yang membuat orang datang jauh-jauh bukan semata lokasi. Ini soal rasa.

Tengkleng yang disajikan Mas Jon bukan tengkleng sembarangan. Sajian ini menggunakan potongan tulang muda kambing—balungan, istilah lokalnya—yang dimasak dalam kuah gulai kental beraroma rempah. Mirip dengan tengkleng khas Solo, tapi dimasak di atas arang, bukan kompor gas. Arang memberikan aroma smoky yang khas, lapisan rasa yang tak bisa ditiru oleh cara masak modern.

Proses memasaknya pun tidak instan. Setiap sesi memasak menggunakan dua wajan besar sekaligus, dan dalam sehari bisa berlangsung hingga lima kali giliran masak. Kambing yang digunakan dipotong sendiri oleh Mas Jon—bukan dari pasokan sembarangan. Soal berapa ekor kambing yang habis per hari, Mas Jon memilih tutup mulut. “Rahasia perusahaan,” katanya, sambil tertawa.



Follow Widget