MAKASSAR, PUNGGAWAFOOD – Di tengah serbuan es krim pabrikan yang memenuhi lemari pendingin minimarket, sebuah gerobak sederhana dengan bunyi lonceng khas masih bertahan di sudut-sudut kota. Es potong goyang — jajanan dingin legendaris yang pernah menjadi raja jalanan era 1990-an — ternyata belum menyerah pada perubahan zaman.
Siapa yang tak kenal sensasinya? Cokelat cair dituangkan langsung ke atas balok es yang dingin, seketika membeku membentuk lapisan tipis nan renyah seperti kulit pelindung yang rapuh. Begitu digigit, terdengar bunyi kriuk yang memuaskan, disusul kelembutan es di dalamnya yang langsung meleleh di lidah.
Rasa cokelat pekat berpadu gurih namun tidak berlebihan. Manisnya pun berhenti di tempat yang tepat — tidak membikin tenggorokan serak atau eneg. Inilah keunggulan yang sulit ditandingi oleh produk-produk modern yang penuh perisa buatan.
Pilihan isiannya menjadi daya tarik tersendiri. Kacang hijau yang lembut, ketan hitam yang legit, alpukat segar, nangka harum, hingga durian yang aromanya saja sudah menggugah selera — semuanya diracik dengan resep yang setia pada cita rasa lokal asli. Tidak ada tambahan artifisial yang mengorbankan keaslian rasa.
Namun kisah es potong goyang bukan hanya soal rasa. Ada persaingan sengit yang harus dihadapi para penjualnya setiap hari. Es krim wafer, es krim cone, hingga es krim dalam cup plastik yang dijual seribu rupiah kini mudah dijumpai di hampir setiap sudut pemukiman. Harganya bersaing, rasanya seragam, dan kemasannya menarik mata anak-anak.

Tinggalkan Balasan