Para penjual es potong goyang harus berpikir keras untuk bertahan. Mereka tidak punya modal besar untuk beriklan, tidak punya mesin pendingin canggih, dan tidak punya gerai yang nyaman ber-AC. Yang mereka punya hanyalah gerobak, es balok, cokelat cair, dan kenangan yang mereka titipkan dalam setiap gigitan.

Menariknya, justru di situlah letak kekuatan mereka yang sesungguhnya.

Segmen pembeli es potong goyang telah bergeser secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Jika dulu gerobak ini dikepung oleh anak-anak berseragam sekolah yang mengantri dengan uang jajan di tangan, kini pemandangan itu telah berganti. Yang berhenti dan merogoh dompet adalah para pekerja kantoran, mahasiswa, bahkan orang tua yang sudah berumur kepala empat atau lima.

Mereka bukan membeli es. Mereka membeli waktu — atau lebih tepatnya, mereka membeli momen untuk kembali ke masa yang lebih sederhana dan menyenangkan.

Bagi generasi yang lahir dan besar di tahun 1990-an, es potong goyang adalah bagian dari peta kenangan yang tidak ternilai. Ia hadir di sore hari sepulang sekolah, di halaman rumah tetangga saat musim kemarau, di tepi lapangan ketika pertandingan bola kampung usai. Setiap suapan membawa potongan kecil dari masa lalu yang terasa jauh namun rindu untuk dikunjungi kembali.



Follow Widget