Selain tengkleng, warung ini juga menyajikan tiga menu lain: tongseng daging, sate kambing, dan gulai jeroan. Semuanya dibanderol harga yang sama—Rp32.000 per porsi. Jika ingin paket lengkap dengan nasi dan minuman, cukup tambah Rp7.000, menjadi Rp39.000. Untuk ukuran warung kaki lima dengan kualitas seperti ini, harga itu tergolong sangat terjangkau.
Tongseng di sini menggunakan daging kambing pilihan, bukan jeroan. Dimasak dengan kol dan tomat, kuahnya kental berwarna merah kecokelatan. Sekali masak, Mas Jon bisa menyiapkan 15 porsi tongseng dalam satu wajan. Sate kambingnya pun tidak kalah. Setiap tusuk dibakar dua kali—sekali sebagai lapisan dasar, sekali lagi untuk finishing. Hasilnya: warna gelap menggoda, tekstur empuk, aroma panggangan yang menusuk hidung dengan cara terbaik.
Gulai jeroan tersedia khusus bagi yang menyukai bagian dalam kambing. Semua jenis jeroan ada di sini, disajikan dalam kuah gulai yang sama dengan tengkleng. Bagi penggemar jeroan, ini semacam surga tersembunyi di tepi pasar tradisional.
Yang membuat warung Mas Jon unik bukan hanya menunya, tapi juga filosofi operasionalnya. Tidak ada jam tutup yang pasti—yang ada hanya satu aturan: tutup kalau habis. Dan “habis” biasanya datang dalam waktu dua jam sejak buka. Tidak ada sistem reservasi. Tidak ada nomor antrean. Siapa cepat, dia dapat.
Warung ini sudah berdiri sejak 2013. Lebih dari satu dekade Mas Jon memasak tengkleng dengan cara yang sama, di tempat yang sama, dengan harga yang tetap bersahabat. Kepopulerannya bukan hasil endorse selebgram atau kampanye media sosial berbayar. Dari mulut ke mulut—dan kini dari layar ke layar.

Tinggalkan Balasan