SURABAYA, PUNGGAWAFOOD – Di tengah himpitan harga bahan pangan yang terus melonjak, ada sebuah gerobak mie ayam di Jalan Arif Rahman Hakim Surabaya yang tetap kukuh mematok harga Rp12.000 per porsi. Bukan porsi kecil—melimpah, dengan ceker empuk, cacahan ayam berbumbu kecap, dan kerupuk pangsit goreng yang bikin makan sore makin lengkap.

Namanya Pak Sahuri. Pria asal Demak, Jawa Tengah, ini sudah dua dekade lebih menggeluti dunia mie ayam di Kota Pahlawan. Perjalanan panjang itu dimulai dari jalanan—keliling kawasan Gebang Lor dan Genteng, melewati gang-gang sempit di sekitar kampus ITS Surabaya. Sekitar sepuluh tahun terakhir, ia menetap di depan Balai RW 14, Kelurahan Klampis Ngasem, dan di sinilah nama Pak Sahuri mulai dikenal luas.

Gerobaknya buka setiap hari mulai pukul 15.00 sore. Tak ada jam tutup yang pasti—dagangan habis, baru pulang. Biasanya sekitar tengah malam. Itu artinya, hampir sembilan jam Pak Sahuri berdiri di balik gerobaknya, melayani satu per satu pelanggan yang datang dari berbagai penjuru kota.

Yang membuat mie ayam ini berbeda bukan sekadar harganya yang murah. Pak Sahuri menyediakan mie dalam berbagai ukuran—gepeng, keriting, atau sedang—sesuai permintaan pelanggan saat memesan. Semua mie berasal dari pabrik Rajawali di kawasan Semolwaru, Surabaya, dan dimasak hingga tingkat kematangan yang pas: tidak keras, tidak lembek, tidak lengket satu sama lain.

Bumbu kecap menjadi jiwa dari semangkuk mie ayam Pak Sahuri. Rasanya sedap-sedap manis gurih, berpadu dengan cacahan daging ayam berbumbu yang melimpah di atas mi. Ditambah acar mentimun segar di atasnya, yang memberi sedikit rasa asam segar—sentuhan yang jarang ditemukan pada mie ayam kebanyakan di Surabaya.

Soal sayuran, Pak Sahuri jujur mengakui ada penyesuaian. Harga sawi hijau tengah meroket—dari kisaran Rp12.000–13.000 per kilogram, kini bisa tembus Rp30.000 bahkan Rp35.000. Untuk menjaga agar harga jual tetap Rp12.000, ia mencampur sawi hijau dengan kubis. Cara sederhana untuk bertahan tanpa harus mengorbankan pelanggan.

Paket lengkapnya: semangkuk mie ukuran sedang, cacahan ayam berbumbu kecap, satu atau dua buah ceker yang sudah empuk hingga dagingnya merotoli dari tulang, irisan acar mentimun, dan segenggam kerupuk pangsit goreng untuk teman kriuk-kriukan. Harga ceker dan non-ceker sama persis—Rp12.000. Jika ingin menambah satu ceker lagi, cukup tambah seribu rupiah.

Cekernya yang terlalu matang bukan sebuah kekurangan—justru sebaliknya. Tekstur yang sangat empuk membuat daging ceker mudah terlepas dan langsung menyatu dengan kuah bumbu. Tidak perlu bersusah payah menggigit, cukup diseruput pelan-pelan.

Lokasi Pak Sahuri bersebelahan dengan warung legendaris lain di area itu: lontong balap Pakno. Keduanya berbagi tempat yang sama, hanya berbeda jam berjualan. Jadilah kawasan depan Balai RW 14 ini semacam surga kuliner pinggir jalan yang bergantian menyambut pembeli dari pagi hingga larut malam.

Dengan harga Rp12.000 untuk porsi semewah itu, mie ayam ceker Pak Sahuri layak masuk daftar kuliner wajib coba di Surabaya—terutama bagi siapa saja yang melintas di kawasan Arif Rahman Hakim sore hari.

FAQ

Di mana lokasi mie ayam ceker Pak Sahuri? Warung Pak Sahuri berada di Jalan Arif Rahman Hakim, Surabaya, tepatnya di depan Balai RW 14, Kelurahan Klampis Ngasem. Lokasinya berdekatan dengan warung lontong balap Pakno.

Berapa harga mie ayam ceker Pak Sahuri dan apa saja yang didapat? Satu porsi dihargai Rp12.000, baik dengan maupun tanpa ceker. Dalam satu porsi sudah termasuk mie, cacahan ayam berbumbu kecap, sayuran (campuran sawi hijau dan kubis), acar mentimun, serta kerupuk pangsit goreng.

Jam berapa warung Pak Sahuri buka? Warung buka setiap hari mulai pukul 15.00 sore dan tutup saat dagangan habis, biasanya sekitar pukul 24.00 tengah malam.



Follow Widget