Satu porsi Nasi Lemak Ayam Taliwang dibanderol dengan harga berbeda antara pelajar dan masyarakat umum. Untuk pelajar SMU, harganya lebih terjangkau. Sementara untuk umum, ada tambahan sekitar 0,8 dolar Singapura, sehingga total menjadi sekitar 8 dolar Singapura—setara kurang lebih Rp122.000 jika dikonversi ke rupiah berdasarkan kurs saat itu.

Harga ini memang sedikit lebih tinggi dibandingkan nasi lemak di kawasan lain seperti Albert Centre yang rata-rata dijual sekitar 5 dolar Singapura. Namun lokasi di dalam kampus SMU yang prestisius dan strategis membuat selisih harga itu terasa masuk akal. Bahkan dibandingkan nasi lemak di Bugis Cube, harga di sini masih lebih bersahabat.

Soal porsi, tidak perlu khawatir. Satu porsi datang dengan tampilan yang cukup menggiurkan: nasi lemak gurih berbasis santan yang teksturnya lembut, sepotong besar paha ayam taliwang, sambal yang melimpah, irisan mentimun segar, kacang goreng, dan teri—lengkap sesuai standar nasi lemak otentik.

Ayam taliwangnya menjadi bintang utama sajian ini. Dagingnya tebal, bagian paha yang dipilih memberikan gigitan yang memuaskan. Tingkat kematangannya pas, dan yang paling mencolok adalah bumbu taliwang yang meresap hingga ke dalam daging. Rasa rempahnya disebut mirip dengan ayam taliwang yang biasa dinikmati di Surabaya—bukan versi yang sudah terlalu disesuaikan dengan lidah lokal Singapura.

Nasinya sendiri dimasak dengan campuran santan, menghasilkan tekstur yang lebih padat dan aroma yang khas. Inilah yang membedakan nasi lemak dari nasi putih biasa—lemak dari santan memberikan dimensi rasa tersendiri yang membuat setiap suapan terasa lebih kaya.



Follow Widget