Barongko adalah kue wajib lainnya yang tidak boleh dilewatkan. Dibuat dari pisang yang dihaluskan dan dicampur santan, lalu dibungkus daun pisang sebelum dikukus. Rasanya manis alami dengan tekstur lembut yang khas — dan ini bukan sekadar kudapan biasa, melainkan bagian dari identitas kuliner Makassar yang sudah dikenal luas.

Satu lagi primadona di Mama Kafe adalah Bayoni Balu. Kue ini biasanya hadir dalam pesta pernikahan adat Bugis, dan keistimewaannya terletak pada isiannya: durian. Bagi pencinta durian, satu gigitan Bayoni Balu cukup untuk membuat pagi menjadi sempurna.

Selain kue-kue manis, Mama Kafe juga menyajikan songkolo — nasi ketan hitam yang disajikan bersama serundeng dan sambal. Dalam budaya masyarakat Makassar, songkolo bisa dinikmati kapan saja: pagi hari sebagai sarapan, atau tengah malam dalam tradisi yang dikenal dengan sebutan “Songkolo Bagadang.” Keduanya sah, keduanya nikmat.

Ada pula basang, semacam bubur yang terbuat dari jagung ketan putih dan disajikan dengan kuah santan serta gula pasir sebagai topping. Teksturnya kental dengan butiran jagung yang masih terasa, dan aromanya cukup khas untuk membangunkan selera makan di pagi hari.

Puncak dari pengalaman sarapan di Mama Kafe adalah nasi kuning. Di Makassar, nasi kuning bukan sekadar nasi biasa yang diberi warna dari kunyit. Ia datang bersama lauk yang beragam: telur busa, paru goreng, acar, daging topak merica — sajian yang konon hanya bisa ditemukan dalam versi otentiknya di Makassar — serta sayur lode, abon sapi, dan perkedel kentang. Sambal gorengnya menjadi pelengkap yang mengunci seluruh cita rasa.



Follow Widget