PUNGGAWAFOOD, JAKARTA — Warna hijau yang menggoda, tampilan estetik yang memanjakan mata, dan kesan mewah yang melekat — pistachio kini menjadi bahan favorit yang mendominasi dunia kuliner kekinian. Dari croissant berlapis krim pistachio, minuman latte hijau yang instagrammable, hingga cokelat bergaya Dubai yang meledak di media sosial, tren ini seolah tak ada habisnya. Namun di balik popularitasnya yang meroket, satu pertanyaan mendasar layak diajukan: apakah pistachio benar-benar menyehatkan, atau sekadar tampak sehat karena sedang viral?

Jawabannya, seperti banyak hal dalam dunia gizi, bergantung pada bagaimana kita mengonsumsinya. Dalam bentuk alaminya, pistachio sesungguhnya adalah kacang dengan profil nutrisi yang sangat mumpuni. Dalam takaran 30 gram saja, pistachio menyimpan kandungan protein nabati, serat, kalium, magnesium, fosfor, vitamin B6, hingga vitamin E — kombinasi yang menjadikannya salah satu camilan paling padat nutrisi yang bisa dipilih.

Ahli gizi Hobson, seperti dikutip dari laman Daily Mail, mengungkapkan bahwa porsi 30 gram pistachio mengandung sekitar 3 gram serat, yang setara dengan sekitar 10 persen dari kebutuhan serat harian yang direkomendasikan sebesar 30 gram. Serat ini memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan sekaligus membantu menstabilkan kadar gula darah agar tidak melonjak drastis usai makan.

Banyak orang selama ini menghindari kacang-kacangan karena kekhawatiran terhadap kandungan lemaknya. Namun pada pistachio, anggapan itu perlu diluruskan. Hobson menjelaskan bahwa dari sekitar 13 gram lemak yang terkandung dalam 30 gram pistachio, hanya sekitar 1,5 gram yang merupakan lemak jenuh. Sisanya adalah lemak tak jenuh yang justru bersahabat dengan jantung dan pembuluh darah.


RADIO SUARA BERSATU FM