PUNGGAWAFOOD, LOMBOK — Mendengar nama kuliner ini, banyak orang mungkin langsung membayangkan sepiring tulang-belulang. Kekeliruan ini cukup lumrah, mengingat kata balung dalam bahasa Jawa memang bermakna tulang. Namun sesungguhnya, Bebalung adalah sajian khas Lombok dengan identitas jauh lebih kaya dari sekadar namanya.
Dalam bahasa Sasak, bebalung berarti tenaga. Masyarakat setempat meyakini bahwa hidangan berkuah ini mampu memulihkan dan membangkitkan energi siapa pun yang menyantapnya. Konon, tubuh terasa lebih segar dan bertenaga usai menikmati semangkuk Bebalung, menjadikannya bukan sekadar santapan, melainkan juga semacam penguat stamina alami.
Secara tampilan, Bebalung sekilas menyerupai gulai atau sop. Potongan tulang sapi berukuran besar menjadi bahan utamanya, dengan bagian paling istimewa tersimpan di dalam tulang itu sendiri, yakni sumsum yang lembut dan gurih, selalu menjadi rebutan para penikmatnya. Bagi tamu kehormatan, potongan tulang terbesar adalah bentuk penghormatan yang lazim diberikan tuan rumah.
Hidangan ini bukan sembarang menu harian. Bebalung selalu hadir dalam momen-momen penting kehidupan masyarakat Lombok, mulai dari pesta pernikahan, khitanan, kenduri, hingga upacara adat dan prosesi kematian. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap meja makan, melainkan simbol kebersamaan dan kehangatan yang telah mengakar dalam tradisi masyarakat Sasak selama berabad-abad.

Tinggalkan Balasan