PUNGGAWAFOOD — Di balik kemegahan Gunung Gamalama dan hamparan laut yang membentang sejauh mata memandang, Pulau Ternate menyimpan warisan kuliner yang tak kalah memukau dari pesona alamnya. Sebuah hidangan bernama Gohu Ikan hadir bukan sekadar sebagai santapan, melainkan sebagai bukti nyata bahwa kearifan leluhur masyarakat kepulauan rempah ini telah jauh melampaui zamannya.
Jauh sebelum sashimi Jepang menjadi tren di meja-meja restoran kota besar Indonesia, tradisi menikmati ikan mentah sesungguhnya telah mengakar dalam khazanah kuliner Nusantara. Di Sumatera Utara, masyarakat Batak mengenal Naniura, sajian ikan mas mentah yang diproses menggunakan asam andaliman dan rempah kuning. Sementara di ujung timur negeri ini, masyarakat Ternate telah berabad-abad mewarisi Gohu Ikan, sebuah kreasi kuliner berbahan tuna atau cakalang segar yang diracik dengan perpaduan bumbu pedas, asam, dan gurih yang begitu khas dan tak tertandingi.
Nama hidangan ini sendiri berbicara banyak tentang jati dirinya. Kata “gohu” berakar dari bahasa Ternate, yakni kohu, yang bermakna mengunyah sesuatu dalam keadaan mentah. Penamaan ini sekaligus menjadi penanda identitas yang jujur: hidangan ini memang lahir dari kesegaran laut, tanpa perantara api sedikit pun. Satu catatan penting yang patut diingat, penyebutan “gohu” saja tanpa diikuti kata “ikan” dapat menimbulkan kerancuan, sebab istilah tersebut juga merujuk pada sejenis rujak khas Manado.
Asal-usul Gohu Ikan diyakini bermula dari kehidupan para nelayan Ternate pada abad ke-14, ketika mereka harus memenuhi kebutuhan pangan di tengah pelayaran panjang melintasi perairan Maluku yang tak selalu bersahabat. Tanpa fasilitas memasak yang memadai di atas perahu, kecerdasan nenek moyang mendorong mereka memanfaatkan hasil tangkapan segar yang berlimpah, lalu meraciknya dengan rempah-rempah yang ada. Dari kebutuhan sederhana itulah lahir sebuah mahakarya yang kini dikenal luas dan dibanggakan sebagai identitas kuliner Bumi Rempah.

Tinggalkan Balasan