PUNGGAWAFOOD, SURABAYA — Di antara denyut kota Surabaya yang tak pernah benar-benar sunyi, sebuah warung sederhana di Jalan Manyar Kertoadi berdiri kukuh menjadi magnet kuliner yang tak lekang oleh waktu. Warung Sate Pak Imam, yang berlokasi tepat di seberang Kantor Polsek Sukolilo, telah menempatkan dirinya sebagai salah satu destinasi sate Madura paling legendaris di kota ini. Buktinya sederhana namun mencengangkan: seribu tusuk sate habis terjual setiap malamnya.

Pak Imam, sang pemilik, adalah perantau asal Sampang, Madura, yang telah mengadu nasib di Surabaya selama lebih dari dua dekade. Kegigihannya mempertahankan cita rasa asli sate Madura di tengah persaingan kuliner kota besar menjadi fondasi reputasi yang kini ia miliki. Meski saat ini Pak Imam tengah beristirahat karena sakit, warungnya tetap beroperasi di tangan saudaranya, Ahmad Ruji, yang menjaga tradisi memasak dengan penuh dedikasi.

Warung ini beroperasi setiap hari mulai pukul empat sore hingga pukul sepuluh malam, menyajikan dua pilihan utama yang sama-sama menggugah selera: sate ayam dan sate kambing. Keduanya disiapkan dengan teknik pembakaran khas Madura yang telah menjadi ciri khas tersendiri. Potongan daging dibalut bumbu kacang dan kecap, dibakar hingga setengah matang, lalu dibalut kembali dengan bumbu yang sama sebelum dipanggang hingga tingkat kematangan yang sempurna. Proses berlapis itulah yang menghasilkan cita rasa dalam yang meresap hingga ke serat daging.

Untuk sate ayam, satu porsi berisi sepuluh tusuk dibanderol Rp18.000 saja, dengan potongan daging yang terbilang besar untuk harga tersebut. Bumbu kacangnya disajikan melimpah, bertekstur halus, gurih, dan harum, dilengkapi taburan bawang merah iris di atasnya. Sate kambing hadir dengan harga Rp50.000 per sepuluh tusuk, dengan komposisi daging dan lemak yang bisa disesuaikan sesuai selera pembeli. Bagi yang menginginkan daging saja tanpa lemak, cukup sampaikan saat memesan. Sebagai pelengkap, tersedia lontong dan nasi putih masing-masing seharga Rp5.000.



Follow Widget