PUNGGAWAFOOD – Ada jenis makanan yang kerap sulit diurai lewat ukuran teknis seperti tingkat gurih, pedas, atau kompleksitas bumbu. Hidangan itu justru sering hadir dalam bentuk sederhana, namun memiliki daya tarik emosional yang kuat. Kita mengenalnya sebagai “masakan ibu”, “masakan rumah”, atau dalam istilah populer, comfort food—sebuah sebutan yang sudah terasa hangat bahkan sebelum makanan itu disantap.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengalaman rasa tidak semata ditentukan oleh komposisi bahan atau teknik memasak. Bahasa yang kita gunakan untuk menyebut makanan turut membentuk persepsi kita. Dalam konteks ini, kuliner tidak lagi sekadar aktivitas memasak, melainkan juga praktik budaya dan bahasa yang sarat makna.

Dalam kajian semiotika, Roland Barthes sejak 1961 telah melihat makanan sebagai sistem tanda. Makanan, menurutnya, bukan hanya dikonsumsi, tetapi juga “dibaca”. Ia memuat simbol-simbol sosial, emosi, hingga identitas. Ketika seseorang menyebut sebuah hidangan sebagai “masakan ibu”, yang dimaksud bukanlah resep, melainkan rangkaian makna: rumah, perhatian, masa kecil, hingga rasa aman.

Penelitian di bidang budaya dan psikologi memperkuat pandangan ini. Studi oleh Sheryl E. Locher dan rekan-rekannya pada 2005 menunjukkan bahwa comfort food lebih sering terkait dengan nostalgia dan kebutuhan emosional ketimbang kebutuhan biologis semata. Menariknya, jenis makanan yang dianggap memberi kenyamanan bisa berbeda di tiap budaya, namun bahasa yang menyertainya hampir selalu sama: hangat, dekat, dan personal.

Dalam perspektif linguistik kognitif, George Lakoff dan Mark Johnson menjelaskan bahwa manusia memahami hal abstrak melalui metafora. Rasa aman, misalnya, kerap diasosiasikan dengan “kehangatan” atau “rumah”. Tak heran jika makanan yang memberi rasa nyaman sering diberi label yang merujuk pada ruang domestik dan relasi keluarga.

Di Indonesia, praktik bahasa seperti ini sangat terasa. Alih-alih menyebut “hidangan tradisional dengan teknik sederhana”, masyarakat lebih memilih istilah “masakan ibu”. Secara linguistik, ini merupakan bentuk metonimia—di mana satu kata, “ibu”, mewakili keseluruhan pengalaman yang lebih luas: kasih sayang, perhatian, dan perawatan.

Penggunaan istilah ini juga meluas ke ranah komersial. Banyak rumah makan mengandalkan label “masakan rumahan” atau “rasa rumah” untuk menarik pelanggan. Dalam konteks ini, kata “rumahan” bukan lagi deskripsi objektif tentang rasa, melainkan janji emosional—sebuah pengalaman yang akrab dan menenangkan. Bahasa menjadi penghubung antara memori pribadi dan konsumsi publik.

Ahli linguistik Dan Jurafsky dalam bukunya The Language of Food (2014) menegaskan bahwa pilihan kata dalam menu sangat berkaitan dengan identitas sosial dan nilai budaya. Istilah seperti “homestyle”, “traditional”, atau “grandma’s recipe” secara konsisten memunculkan kesan keaslian dan kehangatan, meski tidak selalu mencerminkan proses memasak yang sebenarnya.

Hal ini diperkuat oleh riset Charles Spence di bidang gastrofisika. Ia menemukan bahwa persepsi rasa sangat dipengaruhi oleh ekspektasi yang dibangun sebelum makanan disantap. Label, cerita, dan deskripsi mampu mengubah pengalaman makan. Sebuah hidangan yang disebut comfort food cenderung terasa lebih menenangkan, bahkan jika secara rasa tidak terlalu istimewa.

Meski demikian, penggunaan bahasa semacam ini juga menyimpan risiko. Jika semua makanan dilabeli “rumahan” atau “comfort”, maknanya bisa menjadi kabur. Bahasa yang digunakan secara berlebihan tanpa refleksi berpotensi kehilangan daya emosionalnya.

Di sisi lain, istilah “masakan ibu” juga mengandung dimensi gender yang jarang dibahas. Frasa ini secara implisit menempatkan aktivitas memasak dalam ranah domestik perempuan dan membingkainya sebagai ekspresi kasih sayang, bukan kerja yang bernilai ekonomi. Dalam kajian sosiolinguistik, hal ini menjadi catatan penting agar kehangatan bahasa tidak menutupi realitas sosial di baliknya.

Namun, sulit dipungkiri bahwa bahasa kuliner memiliki kekuatan simbolik yang besar. Ia menghubungkan makanan dengan pengalaman hidup, menghadirkan rasa pulang di tengah rutinitas yang serba cepat. Pada akhirnya, orang tidak hanya mencari makanan yang enak, tetapi juga makanan yang memberi rasa tenang—meski hanya lewat sepiring nasi sederhana.

Di titik inilah bahasa memainkan peran paling mendasar dalam dunia kuliner: bukan sekadar menjelaskan rasa, tetapi memberi makna. Sebab, jika makanan mengenyangkan perut, maka kata-kata tentang makanan sering kali menjadi penenang bagi perasaan.



Follow Widget