Rocket Chicken tampaknya memahami hal ini sejak awal. Kekuatan merek ini bukan semata pada cita rasa ayam gorengnya, tetapi pada sistem yang menopang ribuan outletnya. Standar operasional prosedur atau SOP mengatur hampir seluruh lini kerja, mulai dari takaran bumbu, cara menggoreng, waktu penyajian, hingga alur kerja kasir.
Dalam struktur operasionalnya, gerai Rocket Chicken mengenal pembagian tanggung jawab yang berlapis. Ada posisi seperti 1st Man, 2nd Man, 3rd Man, koki, dan kasir yang masing-masing memiliki peran jelas. Model seperti ini memastikan outlet tidak berjalan tanpa pengawasan, meski pemilik tidak hadir setiap hari.
Soal lokasi, pilihan Rocket Chicken sangat kalkulatif. Kalau tujuannya menjual makanan dengan harga terjangkau, biaya sewa tidak boleh terlalu tinggi. Kalau sewa membengkak, harga jual ikut naik. Kalau harga naik, segmen pasar utama, yaitu pelajar, pekerja, dan keluarga kelas menengah ke bawah, bisa berpaling. Itulah alasan gerai-gerai Rocket Chicken lebih banyak ditemukan di titik keramaian lokal ketimbang pusat perbelanjaan besar.
Menurutnya, menjual makanan murah harus ditopang oleh hitungan yang rapi. Bahan baku distandarisasi agar mudah dikontrol. Menu dirancang tidak terlalu rumit agar mudah diajarkan ke karyawan baru. Pelatihan dibuat praktis dan langsung menyentuh pekerjaan harian, bukan teori yang sulit dipraktikkan.

Tinggalkan Balasan