PUNGGAWAFOOD, MAKASSAR — Di tengah menjamurnya makanan modern yang tampil menarik dan mudah dipasarkan, kuliner pasar tradisional Indonesia perlahan mulai tersisih. Padahal, di balik kesederhanaannya, jajanan seperti lemper, klepon, serabi, hingga kue cucur menyimpan cita rasa autentik sekaligus nilai gizi yang tak kalah dari makanan kekinian.
Fenomena ini tidak semata soal selera. Banyak pengamat menilai, kuliner tradisional kerap kalah di “meja pamer” sebelum sempat dinikmati. Di era digital yang serba visual, makanan dengan kemasan modern, desain minimalis, serta nama berbahasa asing lebih cepat menarik perhatian konsumen, terutama generasi muda.
Padahal, jajanan pasar umumnya dibuat dari bahan alami seperti tepung beras, kelapa, dan gula merah, yang relatif lebih minim bahan tambahan kimia dibandingkan produk olahan modern. Dari sisi kesehatan, ini menjadi nilai lebih yang sering terabaikan. Selain itu, proses pembuatannya yang masih tradisional juga menjaga keaslian rasa sekaligus kandungan nutrisinya.
Menurut UNESCO, praktik kuliner tradisional merupakan bagian dari warisan budaya takbenda. Artinya, makanan tidak hanya dilihat sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai pembawa identitas, pengetahuan lokal, dan sejarah panjang suatu komunitas. Ketika kuliner tradisional tersingkir karena kalah dalam hal tampilan dan pemasaran, yang hilang bukan sekadar produk, tetapi juga ekosistem budaya yang menyertainya.

Tinggalkan Balasan