MAKASSAR, PUNGGAWAFOOD – Di balik sepotong tempe goreng yang akrab di meja makan jutaan keluarga Indonesia, tersimpan kisah panjang yang kini melangkah ke panggung dunia. Pemerintah Indonesia secara resmi mengajukan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ke UNESCO—sebuah langkah yang menegaskan bahwa makanan sederhana ini jauh lebih dari sekadar lauk murah meriah.

Perayaan Hari Tempe Nasional yang digelar di Jakarta pada Rabu, 17 Juni 2026 menjadi momentum penting untuk menyuarakan hal itu. Di hadapan para pemangku kepentingan, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, menegaskan bahwa tempe adalah bukti nyata bagaimana tradisi lokal mampu bertahan di tengah arus perubahan zaman.

“Tempe telah membuktikan daya tahannya dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar-akar nilai tradisional, terutama di tengah tren menuju pola makanan sehat,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Di saat tren gaya hidup sehat mendorong masyarakat global mencari alternatif protein nabati, tempe justru semakin relevan. Produk fermentasi kedelai yang sudah dikenal selama berabad-abad ini kini menjadi incaran konsumen sadar kesehatan di berbagai belahan dunia.

Tempe bukan lahir kemarin. Pengetahuan tentang proses fermentasinya—dari pemilihan bahan baku, inokulasi ragi, hingga teknik produksi—telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa, dan perlahan menyebar ke seluruh Nusantara. Setiap daerah bahkan mengembangkan cara pengolahannya sendiri: ada yang menggoreng, membakar, mengukus, hingga menjadikannya bahan baku produk olahan modern.



Follow Widget