Ketua Umum Pergizi Pangan Ahmad Sulaiman menegaskan bahwa tempe tidak boleh dipandang sempit hanya sebagai produk pangan. Ia menyebutnya sebagai sebuah sistem budaya yang utuh.
“Tempe bukan hanya dianggap sebagai sebuah produk, melainkan keseluruhan pengetahuan dan teknologi tradisional, praktik sosial budaya, nilai-nilai komunitas, dan sistem pewarisan budaya yang hidup di masyarakat Indonesia,” kata Ahmad.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya telah menguasai teknologi fermentasi jauh sebelum dunia mengenal istilah bioteknologi modern. Dengan kata lain, nenek moyang bangsa ini adalah pelopor bioteknologi pangan—hanya saja tanpa gelar akademik yang tertulis di kertas.
Pandangan senada disampaikan Ketua Umum Forum Tempe Nasional, Hardinsyah. Menurutnya, nilai tempe mencakup dimensi yang sangat luas: sejarah, budaya, teknologi tradisional, ketahanan pangan, hingga keberlanjutan lingkungan.
“Budaya tempe merepresentasikan kearifan lokal Indonesia dalam mengelola pangan secara berkelanjutan. Lebih jauh, ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat berkontribusi pada solusi global soal kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan