PINRANG, PUNGGAWAFOOD – Aroma kopi yang mengepul dari cangkir-cangkir panas di Warkop Cikiang, Pinrang, Sulawesi Selatan, bukan sekadar minuman biasa. Di balik setiap tegukan tersimpan sejarah panjang yang melewati zaman kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga era digital—lebih dari seratus tahun tanpa jeda.

Warung kopi ini berdiri di Jalan Poros Pinrang-Polman atau Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Sawito, Kecamatan Watang Sawito, Kabupaten Pinrang. Lokasinya strategis, tepat di jalur utama yang menghubungkan dua kabupaten di Sulawesi Selatan, membuat warkop ini menjadi titik singgah alami bagi siapa saja yang melintas.

Yang membuat Warkop Cikiang bukan sekadar warung biasa adalah umurnya yang melampaui kemerdekaan Republik Indonesia. Didirikan oleh seorang pria bernama Tamfimin—yang akrab dipanggil warga sekitar sebagai “Pimping”—warung kopi ini mulai menyeduh kopi dan menghidangkan roti kaya jauh sebelum bendera merah putih pertama kali berkibar pada 1945.

Tamfimin adalah sosok yang keras namun berdedikasi. Di masanya, ia dikenal bukan hanya sebagai perintis warkop, tetapi juga sebagai pesepak bola yang pernah bergabung dengan Perspin—Persatuan Sepak Bola Pinrang. Di tengah kesibukannya di lapangan hijau, ia tetap mengelola usaha kopinya yang kala itu dikenal masyarakat lokal dengan nama Warkop Ming.

Kopi dan bola, dua hal yang tampak berbeda, nyatanya berjalan beriringan dalam hidup Tamfimin. Warung kopi itu tumbuh perlahan, dikenal dari mulut ke mulut, menjadi tempat berkumpul warga dari berbagai kalangan. Kedisiplinan yang ia terapkan dalam olahraga juga tercermin dalam cara ia mengelola usahanya—detail, konsisten, dan tidak mudah berkompromi dengan kualitas.



Follow Widget