Memasuki dekade 1950-an, tongkat estafet usaha berpindah tangan. Tamfimin menyerahkan pengelolaan warung kepada putranya, Cikiang, yang kemudian menjadi generasi kedua penerus bisnis keluarga ini. Di bawah tangan Cikiang, warkop terus bertahan dan berkembang, mempertahankan cita rasa kopi tradisional yang sudah menjadi identitas keluarga.
Nama “Cikiang” pun akhirnya diabadikan sebagai nama warung. Bukan sekadar nama, melainkan penghormatan kepada sosok yang menjaga warisan sang ayah tetap hidup di tengah perubahan zaman yang terus bergolak.
Kemudian tibalah giliran generasi ketiga. Sejak 2007, Nilawati Tamrin—cucu perempuan Tamfimin yang akrab disapa Meme—mengambil alih kendali Warkop Cikiang. Di tangannya, nama warung resmi diubah menjadi Warkop Cikiang, menandai babak baru dalam sejarah panjang usaha keluarga ini.
Meme Nilawati bukan figur yang tumbuh jauh dari dunia kopi. Sejak kecil ia sudah berada di lingkungan warkop, menyaksikan langsung bagaimana sang kakek dan ayahnya menjaga kualitas demi kualitas. Namun hubungannya dengan sang kakek tidak selalu mulus. Tamfimin dikenal sebagai orang yang sangat disiplin—keras dalam mendidik cucu-cucunya. Meme masih mengingat bagaimana tangannya dipukul tiap kali menulis dengan tangan kiri, meski ia memang kidal sejak lahir.
“Dari cerita orang-orang, Kakek itu orangnya disiplin,” kenang Meme. Kedisiplinan itulah yang kini ia warisi dan terapkan dalam mengelola warkop: memastikan kopi selalu panas, kebersihan selalu terjaga, dan cita rasa tidak pernah bergeser sedikit pun dari pakem yang sudah dibangun sejak zaman Pimping.

Tinggalkan Balasan