Yang perlu dipahami, respons tubuh terhadap kafein tidak sama pada setiap orang. Ada yang minum dua cangkir kopi malam hari lalu tidur nyenyak, ada pula yang meneguk setengah cangkir sore hari langsung gelisah hingga tengah malam. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, obat-obatan yang dikonsumsi, kebiasaan minum kopi, serta kemampuan genetik tubuh dalam memetabolisme kafein.
Pedoman dari FDA dan Otoritas Keamanan Pangan Eropa menyebutkan bahwa konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari umumnya aman bagi orang dewasa sehat. Namun, angka itu bukan target yang harus dikejar. Jika muncul gejala seperti sulit tidur, gelisah, tremor, atau jantung berdebar, konsumsinya perlu dikurangi tanpa menunggu batas tersebut terpenuhi.
Banyak orang mengira batas aman kopi cukup dihitung dari jumlah cangkir. Padahal, kandungan kafein sangat bervariasi tergantung jenis biji kopi, metode penyeduhan, ukuran sajian, hingga takaran yang digunakan. Satu cangkir espresso bisa mengandung kafein jauh lebih tinggi dibanding segelas kopi tubruk biasa.
Di sinilah banyak orang terjebak. Mereka membatasi jumlah cangkir, tetapi mengisi tiap cangkir dengan gula, krimer, susu kental manis, atau sirup dalam jumlah berlebihan. Akibatnya, manfaat kopi sebagai minuman rendah kalori pun luruh, berganti menjadi beban kalori yang tidak disadari.
Rony sendiri memilih kopi Americano tanpa tambahan yang berlebihan. Menurutnya, masalah utama dalam konsumsi kopi modern bukan berasal dari kopinya, melainkan dari semua yang ditambahkan ke dalamnya.

Tinggalkan Balasan