Sebagai pembanding, para peneliti juga menguji gandum yang dikembangkan lewat metode pemuliaan konvensional, yakni dengan menginduksi mutasi acak menggunakan agen kimia. Hasilnya jauh berbeda. Meski metode lama itu mampu menekan asparagin bebas hingga 50 persen, hasil panen turut anjlok hampir 25 persen, menjadikannya kurang efisien secara ekonomi bagi para petani dan industri.
Peneliti utama Dr. Navneet Kaur menyebut riset ini sebagai bukti nyata keunggulan teknologi CRISPR dalam menghasilkan perubahan genetik yang tepat sasaran dan menguntungkan. Sementara pemimpin studi Prof. Nigel Halford menilai kehadiran gandum rendah akrilamida ini berpotensi menjadi solusi bagi industri pangan global dalam memenuhi standar keamanan yang semakin ketat, sekaligus menjaga kualitas produk dan efisiensi biaya produksi.
Temuan ini juga memiliki dimensi kebijakan yang tak kalah menarik. Pasca-Brexit, Inggris memposisikan diri sebagai salah satu pusat riset penyuntingan gen terdepan di dunia, setelah tak lagi terikat regulasi ketat Uni Eropa mengenai pangan hasil rekayasa genetika. Pengesahan Undang-Undang Teknologi Genetik pada 2023 semakin membuka jalan bagi pengembangan dan komersialisasi tanaman hasil pemuliaan presisi di negeri itu.
Kendati demikian, prospek cerah ini tidak sepenuhnya bebas hambatan. Jika dalam perundingan dagang mendatang Inggris terpaksa menyelaraskan regulasi pangannya kembali dengan standar Uni Eropa, pengembangan varietas ini bisa menghadapi rintangan baru. Di sisi lain, Uni Eropa sendiri tengah memperketat batas maksimum akrilamida dalam produk pangan, termasuk bagi produk impor yang masuk ke pasar mereka, sebuah tekanan regulasi yang justru bisa mendorong adopsi teknologi serupa di berbagai negara dalam waktu dekat.

Tinggalkan Balasan